Harga logam mulia global mengalami penurunan pada perdagangan Jumat (19/6/2026) hingga menyentuh angka 4.173,03 USD per troy ons.

Pelemahan harian tercatat sebesar 0,88 persen, memperpanjang tren koreksi komoditas tersebut.

in1

>>> Mendukbangga Apresiasi Penurunan Stunting di Kulon Progo di Bawah Rata-rata Nasional

Dalam sebulan terakhir, harga emas global sudah menyusut 8,05 persen.

Pada Januari 2026, logam mulia sempat menembus rekor tertinggi sepanjang masa di 5.608,35 USD per troy ons sebelum akhirnya melandai.

Faktor Pemicu Penurunan

Berdasarkan laporan Trading Economics, penurunan ini dipengaruhi oleh indikator makroekonomi Amerika Serikat. Tingkat inflasi AS pada Mei 2026 naik menjadi 4,20 persen dari sebelumnya 3,80 persen.

Sementara itu, bank sentral AS mempertahankan suku bunga di level 3,75 persen pada Juni 2026. Kebijakan ini memberikan tekanan jangka pendek terhadap aset aman seperti emas.

Proyeksi Harga Jangka Panjang

Meski sedang tertekan, model makro Trading Economics memproyeksikan harga logam mulia akan mencapai 4.239,15 USD per troy ons pada akhir kuartal ini.

Dalam 12 bulan ke depan, harga diprediksi naik hingga 4.596,91 USD per troy ons.

Secara tahunan, harga saat ini masih 24,58 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dampak ke Pasar Domestik

Penurunan global turut memengaruhi harga ritel di dalam negeri.

>>> Kemdikdasmen Dukung Beasiswa S1 Fast Retailing Foundation ke Jepang

Pada Jumat (19/6/2026), harga perhiasan logam mulia dengan kadar terendah 5 karat tercatat Rp437.000 per gram.

Perkembangan Komoditas Logam Lain

Sejumlah komoditas logam juga melemah pada periode 18-19 Juni 2026.

Perak turun 0,82% ke 65,12 USD, tembaga turun 0,34% ke 6,35 USD, dan platina turun 2,34% ke 1.667,30 USD.