Dengan penurunan tersebut, berdasarkan catatan BI, suku bunga kredit perbankan hanya turun sebesar 39 bps dari 9,20 persen pada awal 2025 menjadi sebesar 8,81 persen pada Desember 2025.

Adapun pada Mei 2026, suku bunga kredit tercatat sebesar 8,72 persen dan suku bunga deposito 1 bulan sebesar 4,26 persen.

in1

Josua juga memandang, tren penurunan biaya dana yang terjadi setelah penurunan BI-Rate 125 bps pada 2025 memang berisiko berbalik arah pada 2026.

>>> FAO Prediksi Produksi Gula Dunia Surplus di Musim 2025/2026

Pada April 2026, biaya dana masih turun tipis dan menjadi salah satu penyebab suku bunga dasar kredit (SBDK) turun dari 8,63 persen menjadi 8,62 persen.

Namun, setelah BI menaikkan suku bunga secara agresif pada Mei-Juni 2026, arah transmisi mulai berubah.

"Bank yang porsi dana murahnya rendah, lebih bergantung pada deposito, memiliki kebutuhan likuiditas tinggi, atau agresif menyalurkan kredit akan lebih cepat menaikkan bunga simpanan.

Sebaliknya, bank besar dengan dana murah kuat dan likuiditas longgar masih punya ruang untuk menahan kenaikan biaya dana," kata Josua.

Langkah BI dan Dampaknya

Sebelumnya dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulanan pada 19-20 Mei 2026, BI-Rate naik sebesar 50 bps, menjadikannya langkah penyesuaian pertama setelah dipertahankan di level 4,75 persen sejak September 2025.

Namun, nilai tukar rupiah terus melemah hingga menyentuh level Rp18.000-an per dolar AS sehingga BI-Rate kembali dinaikkan sebesar 25 bps melalui RDG Mingguan pada 9 Juni 2026 atau di luar jadwal reguler.

Terbaru pada Kamis (18/6) melalui RDG Bulanan, bank sentral memutuskan untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps.