PBB: Hampir 50.000 Warga Kembali ke Lebanon Selatan
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan hampir 50.000 warga telah kembali ke rumah mereka di Lebanon selatan.
Namun, lebih dari 106.000 orang masih bertahan di tempat penampungan kolektif di berbagai wilayah negara tersebut.
>>> Swiss Hancurkan Bosnia 4-1 di Piala Dunia 2026
Juru Bicara PBB Stephane Dujarric, Kamis (18/6), menyampaikan data dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).
Hampir 50.000 orang kini telah kembali ke Provinsi Nabatieh dan Lebanon Selatan.
"Namun, lebih dari 106.000 orang masih berada di lokasi-lokasi penampungan kolektif di seluruh negeri, sementara banyak lainnya mencari perlindungan di tempat lain," kata Dujarric kepada wartawan.
Ia menjelaskan bahwa mitra kemanusiaan memperingatkan kondisi keamanan yang belum stabil. Kerusakan yang meluas dan terbatasnya akses terhadap layanan dasar masih menjadi hambatan utama bagi warga untuk kembali.
Pelanggaran dan Insiden di Lapangan
Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) mencatat 143 lintasan proyektil pada Kamis. Sebanyak 19 di antaranya dikaitkan dengan pasukan Israel, sementara sisanya berasal dari kelompok Hizbullah.
Sehari sebelumnya, UNIFIL mencatat 364 lintasan proyektil, dengan 330 dari pasukan Israel dan 34 dari Hizbullah.
>>> UMY Pertahankan Peringkat 13 Global Bidang Ilmu Politik Versi ScholarGPS
UNIFIL juga melaporkan 38 pelanggaran wilayah udara Lebanon pada Rabu, meskipun tidak ada pelanggaran pada Kamis.
Menurut Dujarric, pasukan penjaga perdamaian terus mengamati aktivitas darat yang luas oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di seluruh wilayah operasi.
Ia menyinggung insiden pada Rabu ketika konvoi UNIFIL dihambat oleh dua tank Israel di utara Kota Tyre.
"Selama insiden tersebut, salah satu tank mengarahkan senjatanya ke kendaraan UNIFIL," katanya.
Personel Israel memberi isyarat kepada konvoi untuk berhenti, sehingga patroli terpaksa berbalik arah sebelum akhirnya diizinkan menggunakan rute alternatif.
Dujarric menegaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian UNIFIL harus memiliki kebebasan bergerak tanpa hambatan di seluruh wilayah operasinya sesuai mandat Dewan Keamanan PBB.
>>> Pelaku Usaha Digital Butuh Dukungan Konkret Pemerintah
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani secara elektronik "Memorandum Saling Pengertian Islamabad" yang menghentikan operasi militer di seluruh front konflik, termasuk di Lebanon.
Update Terbaru
Mandiri Jogja Marathon 2026 Dongkrak Perekonomian Daerah Yogyakarta
Jumat / 19-06-2026, 05:26 WIB
Portugal Ditahan Imbang RD Kongo pada Babak Pertama Piala Dunia 2026
Jumat / 19-06-2026, 05:26 WIB
Estimasi Biaya Tol dan BBM Hyundai Stargazer Rute Jakarta-Yogyakarta
Jumat / 19-06-2026, 05:25 WIB
Bahlil Buka Peluang Revisi Harga Batu Bara DMO untuk PLN
Jumat / 19-06-2026, 05:25 WIB
Inaplas Keluhkan Gangguan Listrik di Kawasan Industri
Jumat / 19-06-2026, 05:25 WIB
Panduan Lengkap Mengurus SHM Tanah Mandiri di BPN
Jumat / 19-06-2026, 05:25 WIB
Pemerintah Resmi Ganti PPDB dengan SPMB untuk Masuk SMP Negeri
Jumat / 19-06-2026, 05:24 WIB
Bangkai Kapal Neraka Hofuku Maru Ditemukan di Perairan Filipina
Jumat / 19-06-2026, 05:24 WIB
Wall Street Pulih Usai Kesepakatan Damai AS-Iran
Jumat / 19-06-2026, 05:24 WIB
CEO Danantara: Kredit UMKM Harus Tetap Terjaga Meski BI Rate Naik
Jumat / 19-06-2026, 05:24 WIB
Morgan Oey dan Nirina Zubir Resmi Jadi Duta FFI 2026
Jumat / 19-06-2026, 05:23 WIB
Memahami Perbedaan Investasi Emas dan Perak untuk Strategi Finansial
Jumat / 19-06-2026, 05:22 WIB
Meta Luncurkan Fitur Baru Setelah Threads Tembus 500 Juta Pengguna
Jumat / 19-06-2026, 05:22 WIB
Film Korea The King's Warden Siap Tayang di Bioskop Indonesia
Jumat / 19-06-2026, 05:22 WIB






