Pejabat Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak Amerika Serikat untuk merombak kebijakan imigrasinya menjelang Piala Dunia 2026.

Langkah ini diambil karena kebijakan yang ada dinilai berpotensi memicu diskriminasi dan mengganggu partisipasi dalam turnamen sepak bola terbesar di dunia.

>>> Amir Ghalenoei Kritik Kebijakan Imigrasi AS di Piala Dunia 2026

Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Turk, menyoroti sejumlah insiden yang terjadi selama masa persiapan turnamen.

Isu profiling rasial, pengawasan ketat, dan penegakan hukum imigrasi sudah terlihat bahkan sebelum kompetisi dimulai.

Piala Dunia 2026 akan diikuti oleh 48 negara dan berlangsung selama 39 hari.

Beberapa kasus hambatan imigrasi telah menimpa tim nasional dan perangkat pertandingan.

Turk membeberkan contoh seperti pemindahan lokasi latihan timnas Iran dari Arizona ke Meksiko.

Visa masuk untuk beberapa pejabat asal Iran juga ditolak oleh otoritas AS.

Seorang wasit elit asal Somalia dilaporkan ditolak saat berusaha masuk melalui Miami.

Selain itu, seorang pemain sepak bola asal Senegal diperiksa oleh petugas keamanan di landasan bandara.

Rentetan kejadian ini memicu kekhawatiran dari pihak PBB.

"Kami telah melihat beberapa kejadian tersebut," kata Turk dalam konferensi pers di kantor Komisi Tinggi HAM PBB di Jenewa, dikutip dari AP News.

"Saya berharap isu-isu terkait profiling rasial, pengawasan, dan penegakan imigrasi tidak akan mempengaruhi Piala Dunia ini seperti yang sudah terjadi sebelumnya," ujar Turk.

Dalam Piala Dunia 2026, AS bertindak sebagai tuan rumah utama yang menggelar mayoritas dari 104 pertandingan.

Turnamen ini merupakan hajatan bersama antara AS, Kanada, dan Meksiko.

>>> HokBen Sediakan Promo Paket Hoka Murah Meriah Rp 18.000 Mulai April 2026