Edisi kali ini mencetak sejarah dengan penambahan jumlah peserta menjadi 48 tim, dari sebelumnya 32 tim.

"Saya benar-benar berharap akan ada perombakan besar dalam bagaimana penegakan imigrasi menghormati hak asasi manusia dan martabat manusia," kata Turk.

"Terutama untuk Piala Dunia, saya berharap ada perubahan terhadap kebijakan yang saat ini kami lihat masih berlaku di AS."

Turk menegaskan bahwa ajang olahraga internasional seharusnya berfungsi sebagai sarana pemersatu.

"Sudah jelas bahwa dalam lingkungan olahraga akbar, termasuk Piala Dunia, sudah seharusnya memberikan ruang yang bermartabat dan aman bagi tim yang bertanding, juga bagi para suporter, bagi seluruh masyarakat, dan pada dasarnya bagi dunia," kata dia.

Dampak pengetatan dokumen perjalanan meluas hingga ke kelompok suporter.

Suporter dari Maroko dan Skotlandia dilaporkan mengalami pembatalan dokumen perjalanan hanya beberapa hari sebelum berangkat.

Mereka telah mengeluarkan biaya besar hingga ribuan dolar untuk tiket pertandingan, pesawat, dan akomodasi hotel.

Berdasarkan aturan bidding FIFA tahun 2017, negara calon tuan rumah wajib menerapkan proses pengurusan visa secara non-diskriminatif.

Namun, aturan ini tetap memberikan ruang untuk menjaga standar keamanan nasional.

Terkait penolakan wasit asal Somalia, Omar Artan, perwakilan pemerintah AS menyatakan penolakan didasarkan pada dugaan keterkaitan dengan jaringan organisasi teroris, tanpa merinci bukti medis atau hukum.

Menanggapi kritik, FIFA menegaskan bahwa kewenangan penuh terkait imigrasi dan visa berada di bawah kendali pemerintah tuan rumah.

FIFA menyatakan tetap berkomunikasi intensif dengan otoritas setempat untuk memastikan operasional turnamen berjalan lancar.

>>> ANTV Tayangkan Kembali Film Bollywood Kal Ho Naa Ho

Koordinasi ini dilakukan agar ajang tetap terbuka bagi pemain, ofisial, dan suporter yang memenuhi persyaratan baku.