Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan menandatangani perjanjian di Swiss pada Jumat (19/6/2026) untuk membuka kembali Selat Hormuz yang sempat terblokade akibat konflik.

Langkah diplomatik ini diperkirakan akan menghidupkan kembali aktivitas pelayaran di salah satu rute minyak paling strategis di dunia.

>>> Tunisia Pecat Lamouchi, Tunjuk Hervé Renard di Tengah Piala Dunia

Firma data perdagangan Kpler memproyeksikan lalu lintas kapal di jalur tersebut dapat pulih hingga hampir 50 persen dari tingkat sebelum perang dalam waktu 30 hari setelah implementasi berjalan lancar.

Sebelum konflik meletus pada 28 Februari 2026, sekitar 100 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari untuk mengangkut 20 persen pasokan minyak dunia.

Namun aktivitas anjlok setelah Iran menyerang kapal tanker pada awal Maret.

Analisis dari Kpler menunjukkan sekitar 118 kapal tanker saat ini masih tertahan di Teluk Persia dan berpotensi keluar dalam waktu 15 hari pascapembukaan selat.

Kapal-kapal yang telah terisi penuh muatan diperkirakan menjadi kelompok pertama yang melintas, meskipun lonjakan ini dinilai hanya bersifat sementara.

Kekhawatiran Keamanan dan Kesiapan Industri

Analis utama sektor pengangkutan Kpler, Matt Wright menyatakan bahwa banyak kapal saat ini masih menunggu kepastian di Teluk Oman dan Laut Arab.

Jumlah kapal tanker yang masuk ke Teluk Persia diperkirakan meningkat menjadi 12 kapal per hari dalam 30 hari pertama setelah kesepakatan berlaku.

>>> 5 Destinasi Wisata di Australia Barat yang Wajib Dikunjungi

Perusahaan pelayaran global dilaporkan memilih bersikap hati-hati dan mengamati situasi keamanan, terutama terkait potensi serangan serta keberadaan ranjau laut.

Kebijakan kembali beroperasi penuh juga akan bergantung pada penurunan premi asuransi seiring meningkatnya volume kapal yang melintas.