Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,78 persen ke level 6.172,34 pada perdagangan Kamis (18/6/2026).

Bahkan, indeks sempat terkoreksi lebih dalam hingga 1,21 persen ke posisi 6.144.

>>> Astronom Temukan Bukti Langka Tabrakan Dua Planet di Bintang Gaia20ehk

Pelemahan ini dipicu oleh faktor eksternal dan kondisi dalam negeri.

Bank Indonesia baru saja menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen melalui Rapat Dewan Gubernur terbaru.

Tekanan dari Kebijakan Moneter Global

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menjelaskan bahwa kombinasi tekanan pasar modal berasal dari kebijakan moneter internasional hingga fluktuasi nilai tukar.

"IHSG sempat turun cukup dalam seiring sikap hawkish The Fed, antisipasi MSCI review, serta tekanan pada rupiah yang sempat berada di kisaran Rp17.800 per dolar AS," ujar Wafi.

Kebijakan pengetatan moneter domestik juga dinilai turut memberikan dampak kurang menguntungkan bagi pasar modal.

>>> Aksi Bela MBG Meluas, Massa Dukung Program Prabowo

Menurut Wafi, kenaikan suku bunga acuan berpotensi memperpanjang tekanan terhadap bursa saham dalam jangka pendek.

"Secara teknikal masih downtrend, dengan support di 6.170 dan resistance di 6.400. Belum ada sinyal reversal, sehingga breakout ke atas masih membutuhkan katalis yang kuat," jelasnya.

Sentimen pasar untuk perdagangan akhir pekan diperkirakan masih bergejolak.

Arah pergerakan IHSG pada Jumat (19/6/2026) akan bergantung pada hasil peninjauan indeks MSCI dan transmisi lebih lanjut dari kebijakan suku bunga BI.

"Jika hasil MSCI lebih baik dari kekhawatiran pasar, ada potensi rebound. Namun jika sebaliknya, IHSG berpeluang melanjutkan pelemahan ke area 6.000-6.100," tambah Wafi.

>>> Bakom Ajak Masyarakat Awasi Penyaluran BBM Bersubsidi

Menyikapi fluktuasi pasar, beberapa saham emiten perbankan dan komoditas dinilai tetap menarik. Saham yang dapat menjadi perhatian investor antara lain BBCA, BMRI, dan ADRO.