Kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang menahan suku bunga acuan dinilai memberikan dukungan bagi pergerakan harga emas dan perak global.

Namun, sikap hawkish dari otoritas moneter tersebut memicu penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi, sehingga membatasi apresiasi logam mulia di pasar komoditas.

>>> Didit Hediprasetyo Kembali Temui Jokowi di Solo Usai Hadiri Kirab Suro

Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan, menjelaskan bahwa ketidakpastian global yang masih tinggi tetap membuka ruang bagi penguatan instrumen safe haven ini.

"Namun karena proses negosiasi masih berlangsung dan belum final, emas dan perak masih memiliki peluang untuk kembali menguat jika ketidakpastian meningkat," ujar Brahmantya.

Ia menambahkan bahwa pergerakan dolar AS, inflasi, data tenaga kerja, harga minyak, serta tensi geopolitik dunia menjadi katalis penting yang menahan laju logam mulia dalam jangka pendek.

"Justru kondisi ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi secara bertahap," ucap Brahmantya.

Ia memproyeksikan kuartal III-2026 akan menjadi momentum menarik bagi investor jangka menengah dan panjang untuk mulai membangun posisi sebelum munculnya katalis besar berikutnya.

"Emas lebih cocok sebagai instrumen lindung nilai dan menjaga daya beli, sedangkan perak menawarkan potensi kenaikan yang lebih agresif namun dengan volatilitas yang lebih tinggi," terang Brahmantya.

>>> Chery Resmikan Nama Stockman untuk Pikap PHEV Terbaru di Australia

Hingga kuartal III-2026, Brahmantya memprediksi harga emas akan bergerak di rentang US$ 3.800 hingga US$ 4.100 per troy ons, sementara harga perak diperkirakan berada pada kisaran US$ 60 sampai US$ 65 per troy ons.

"Kuartal III-2026 justru bisa menjadi fase akumulasi yang menarik.