Bank sentral Amerika Serikat, The Fed, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50% hingga 3,75%.

Langkah ini diambil demi meredam tekanan inflasi yang diproyeksikan bertahan hingga akhir 2026.

>>> Pertamina Masuk Fortune Southeast Asia 500, Pengamat: Citra Ekonomi Nasional Menguat

Kebijakan moneter tersebut berdampak langsung pada fluktuasi komoditas logam mulia global.

Keputusan itu sejalan dengan ekspektasi pasar, meskipun sembilan pejabat bank sentral memperkirakan potensi satu kali kenaikan suku bunga lagi.

Berdasarkan data Trading Economics pada Kamis (18/6/2026) pukul 17.32 WIB, harga emas berada di level 4.268 per troy ons setelah terkoreksi 4,92% dalam sebulan.

Sementara itu, perak turun 7,37% ke level 68,30 per troy ons.

Penahanan suku bunga ini dinilai memberikan dukungan fundamental bagi logam mulia meskipun pergerakannya dibatasi oleh penguatan dolar AS dan yield obligasi.

Ketegangan geopolitik global dan kelanjutan negosiasi damai antara AS dan Iran juga turut memengaruhi minat pasar terhadap aset aman ini.

“Namun karena proses negosiasi masih berlangsung dan belum final, emas dan perak masih memiliki peluang untuk kembali menguat jika ketidakpastian meningkat,” ujar Brahmantya kepada Kontan, Kamis (18/6/2026).

Faktor lain yang menopang pasar adalah tingginya permintaan dari bank-bank sentral dunia terhadap komoditas emas.

Investor disarankan untuk memanfaatkan volatilitas harga saat ini demi mengumpulkan aset secara berkala.

"Justru kondisi ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi secara bertahap," ucap Brahmantya.

Periode kuartal III-2026 diproyeksikan menjadi momentum yang tepat bagi investor jangka menengah dan panjang untuk mulai membangun posisi.

Instrumen emas dinilai kokoh untuk menjaga daya beli, sedangkan perak menawarkan agresivitas yang lebih tinggi.