PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI belum melihat kebutuhan mendesak untuk menaikkan suku bunga secara signifikan dalam waktu dekat, di tengah lonjakan bunga acuan (BI-Rate) dalam sebulan terakhir.

"Kalau kita lihat dari sisi suku bunga long term, kita untuk sampai dengan sekarang belum ada kebutuhan untuk menaikkan suku bunga secara signifikan," kata Group Head Liquidity and Funding Management Group BRI Teguh Sulistyono dalam acara bincang bersama media di Jakarta, Kamis.

>>> Kemen UMKM Dorong Pelaku Usaha Manfaatkan SAPA untuk Program Strategis

Ia menambahkan bahwa saat ini perseroan masih diuntungkan oleh basis nasabah yang luas.

Sebagian nasabah BRI sensitif terhadap perubahan suku bunga, namun sebagian lainnya lebih mengikuti tingkat bunga pasar.

Perseroan mengakui mulai menerima permintaan suku bunga khusus (special rate) dari sebagian nasabah. Kenaikan BI-Rate juga dinilai berpotensi mendorong langkah penyesuaian dari perbankan.

Teguh menambahkan bahwa transformasi bisnis yang dilakukan BRI untuk menjadi bank yang lebih berorientasi digital dan transaksional turut memperkuat struktur pendanaan perseroan.

Biaya dana (cost of fund/CoF) perseroan pada kuartal I 2026 berada pada level 2,3 persen, lebih rendah dibandingkan posisi 3 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Rasio dana murah (current account saving account/CASA) juga tetap terjaga, yakni mencapai 68,1 persen pada kuartal I 2026.

Sementara itu, SEVP Transaction and Retail Funding Trilaksito Singgih memandang perubahan kondisi pasar dan likuiditas tetap akan mendorong penyesuaian di industri perbankan.

Di sisi lain, perseroan berupaya menjaga efisiensi biaya kredit agar dapat menawarkan suku bunga pinjaman yang kompetitif kepada masyarakat, khususnya di segmen mikro dan usaha kecil menengah (UKM).