Goldman Sachs memproyeksikan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, akan menaikkan suku bunga acuan paling cepat pada September 2026.

Langkah ini dinilai perlu jika angka inflasi belum menunjukkan tanda-tanda melandai hingga akhir kuartal III-2026.

>>> BGN Alihkan Anggaran Makan Gratis dari 76 Sekolah di Jawa

Pandangan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua Goldman Sachs Group Inc., Rob Kaplan, yang juga mantan Presiden The Federal Reserve Dallas.

Pernyataan ini muncul setelah Ketua Dewan Gubernur The Fed, Kevin Warsh, memberikan sinyal bahwa bank sentral tetap fokus pada perjuangan melawan inflasi.

Kaplan mengatakan, "Jika Anda mengambil tindakan pada September, Anda harus siap. Bisa saja akan ada satu atau dua kenaikan susulan setelahnya."

Ia juga mengingatkan agar pasar tidak terlalu terobsesi dengan dot plot atau grafik proyeksi suku bunga The Fed terbaru.

Menurut Kaplan, data tersebut kemungkinan belum sepenuhnya mencerminkan dampak dari kesepakatan Amerika Serikat-Iran serta pembukaan kembali jalur pelayaran global.

>>> Janus Henderson Group Tambah Kepemilikan Saham di NIKE 12,5%

Kedua faktor itu dapat mengubah prospek ekonomi ke depan.

Respons Pasar dan Perbedaan Pandangan

Pasar finansial merespons cepat terhadap sentimen pengetatan moneter ini. Trader obligasi mulai melepas surat utang negara jangka pendek, mendorong kenaikan imbal hasil atau yield.

Pelaku pasar di bursa swap kini memperhitungkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober 2026. Ekspektasi ini bergeser drastis dari perkiraan awal pada Maret 2027.

Sementara itu, Citigroup Inc. menjadi salah satu dari sedikit institusi Wall Street yang tidak sepakat dengan narasi kenaikan tersebut.

>>> BKN Latih 145 Ribu ASN Kuasai Kecerdasan Buatan di Jakarta

Mereka masih memprediksi adanya pelonggaran kebijakan tahun ini, meskipun telah menggeser proyeksi awal pemangkasan suku bunga dari September ke Oktober 2026 karena data ketenagakerjaan yang melemah.