Bali kini dikenal sebagai destinasi wisata kelas dunia. Namun, perjalanan panjang pariwisata di Pulau Dewata ini sudah dimulai sejak era kolonial Belanda.

Pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20 berupaya menjadikan Bali sebagai "museum hidup". Mereka mempromosikan budaya, adat istiadat, dan kesenian Bali ke dunia Barat.

>>> Promo Kamar Mewah Trans Luxury Hotel Surabaya Berlaku Hingga 19 Juni

Dari upaya itu, beberapa kawasan di Bali berkembang dengan karakter berbeda. Ubud dan Kuta menjadi dua contoh utama yang mengangkat nama Bali ke panggung internasional.

Ubud: Pusat Seni dan Budaya

Di Ubud, pariwisata ditopang oleh kekuatan seni dan budaya. Pelukis asal Spanyol, Antonio Blanco, menjadi salah satu tokoh yang turut mempromosikan Bali ke dunia.

Blanco menetap di Bali dan menghasilkan karya yang terinspirasi kehidupan serta budaya setempat. Kehadirannya memperkuat citra Ubud sebagai pusat seni yang menarik wisatawan mancanegara.

Kuta: Awal Pariwisata Modern

Sementara itu, Kuta berkembang melalui jalur berbeda. Kawasan ini menjadi simbol lahirnya pariwisata modern Bali yang didukung pembangunan infrastruktur dan fasilitas wisata.

Pada masa lalu, Kuta jauh dari kesan gemerlap.

Wilayah pesisir selatan Bali itu masih didominasi aktivitas nelayan dan pelabuhan kecil, bahkan pernah menjadi tempat persembunyian bajak laut.

Memasuki awal 1970-an, Kuta belum memiliki banyak fasilitas untuk melayani wisatawan. Titik balik terjadi pada 1971 ketika Kartika Plaza Beach Hotel berdiri di kawasan tersebut.

>>> 3 Negara yang Warganya Masih Konsumsi Daging Kucing, Termasuk Tetangga RI

Hotel bertaraf internasional itu menjadi penanda perubahan Kuta dari perkampungan pesisir menjadi pusat aktivitas wisata.

"Berawal dari Kartika Plaza Beach Hotel yang kemudian berkembang menjadi Discovery Kartika Plaza Hotel, keberadaannya turut mewarnai perkembangan kawasan Kartika Plaza selama 36 tahun terakhir," ungkap pihak hotel.