Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen pada Kamis (18/6).

Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

>>> Pemerintah Percepat Hilirisasi Perkebunan Rakyat 870 Ribu Hektare

Kenaikan terbaru tersebut menggenapi total peningkatan BI-Rate sebesar 100 basis poin sepanjang tahun 2026.

Langkah ini juga bertujuan mengantisipasi risiko imported inflation akibat pelemahan rupiah yang berpotensi memicu lonjakan biaya produksi dalam negeri.

Faktor dan Dampak Kebijakan

Penyesuaian suku bunga dipengaruhi oleh dinamika likuiditas internal dan eksternal, termasuk risiko defisit transaksi berjalan, kebutuhan devisa impor energi, pembayaran dividen korporasi, dan pergerakan arus modal global.

Meski demikian, daya tarik aset keuangan domestik tetap terjaga.

Hal ini terlihat dari penyerapan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang menembus Rp 43 triliun dengan imbal hasil di atas 7 persen.

>>> TNI AU Resmikan Skuadron Udara 18, Rumah bagi Pesawat Falcon 8X

Chief Economist PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), Myrdal Gunarto, menilai kebijakan ini menunjukkan fokus BI pada stabilitas nilai tukar rupiah.

Ia menambahkan, tingginya minat investor pada lelang SRBI membuktikan instrumen moneter BI masih efektif mendukung stabilitas pasar keuangan domestik.

Imbal hasil Surat Berharga Negara tenor pendek diproyeksikan bertahan di atas 7 persen, sementara yield Surat Utang Negara tenor 10 tahun diperkirakan bergerak di rentang 6,87-7,41 persen.

Ke depan, ruang pengetatan BI-Rate diperkirakan semakin terbatas dan bergantung pada pergerakan rupiah, inflasi, harga energi global, serta arus modal internasional.

BTN memperkirakan BI berpotensi mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen hingga akhir tahun jika tekanan eksternal mereda dan harga minyak dunia terkendali.

>>> PT Semen Indonesia Catat Laba Bersih Rp152 Miliar Hingga Mei 2026

Dengan asumsi tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 diproyeksikan mencapai 5,17 persen dengan inflasi terkendali di angka 3,09 persen, sementara pertumbuhan kredit perbankan akan bergerak lebih moderat di bawah 9 persen.