Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), dinilai perlu segera menaikkan suku bunga paling cepat pada September 2026 jika inflasi belum menunjukkan tanda-tanda melandai.

Pandangan ini disampaikan oleh Rob Kaplan, Wakil Ketua Goldman Sachs Group Inc. sekaligus mantan Presiden The Fed Dallas.

>>> Pemerintah Hitung Dampak Kenaikan BI Rate ke 5,75 Persen

Menurut Kaplan, jika data inflasi tetap tinggi hingga akhir kuartal III-2026, langkah pengetatan kebijakan moneter menjadi pilihan yang bijak.

Pernyataan itu muncul setelah Ketua Dewan Gubernur The Fed Kevin Warsh memberikan sinyal bahwa bank sentral tetap memprioritaskan perjuangan melawan inflasi.

Sinyal hawkish tersebut diperkuat proyeksi internal The Fed, di mana separuh anggota memperkirakan kenaikan suku bunga akan terjadi sebelum akhir tahun.

"Jika Anda mengambil tindakan pada September, Anda harus siap. Bisa saja akan ada satu atau dua kenaikan susulan setelahnya," ujar Kaplan dalam wawancara di Bloomberg TV.

Respons Pasar dan Perbedaan Pandangan

Pasar bereaksi cepat terhadap sentimen ini. Trader obligasi mulai melepas surat utang negara jangka pendek, mendorong kenaikan imbal hasil (yield).

Saat ini, pelaku pasar di bursa swap memperhitungkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Oktober 2026, bergeser drastis dari ekspektasi awal di Maret 2027.

Namun, tidak semua pihak sepakat. Citigroup Inc. masih menjadi salah satu dari sedikit institusi Wall Street yang memprediksi pelonggaran kebijakan tahun ini.

>>> BI: Kenaikan Kepemilikan Nonresiden SRBI Bantu Penguatan Rupiah

Citigroup telah menggeser proyeksi awal pemangkasan suku bunga dari September ke Oktober 2026 karena data ketenagakerjaan yang melemah.

Kaplan juga mengingatkan agar pasar tidak terlalu terobsesi dengan dot plot The Fed terbaru.