Tauhid menambahkan, pasar saham Indonesia saat ini juga masih menghadapi tekanan arus keluar modal.

Keterbatasan katalis positif dan belum optimalnya dampak peningkatan bobot Indonesia dalam indeks global membuat investor asing masih cenderung berhati-hati.

"Aliran modal di pasar saham relatif terbatas dan kondisinya masih kurang bergairah. Bahkan net outflow di pasar saham sudah lebih dari Rp 90 triliun," kata dia.

"Untuk membalikkan keadaan itu membutuhkan waktu yang tidak singkat, sehingga perlu dikompensasi dengan sumber dana masuk dari instrumen lain, salah satunya melalui kenaikan BI Rate," jelasnya.

Ia menilai kebijakan tersebut semakin relevan mengingat surplus neraca perdagangan Indonesia mulai menipis, sementara kebutuhan pembiayaan eksternal masih cukup besar.

Di sisi lain, berbagai instrumen kebijakan moneter dan makroprudensial dinilai belum memberikan dampak yang signifikan terhadap arus modal.

"Dalam situasi sekarang, ketika surplus neraca dagang semakin menipis dan instrumen kebijakan lain dampaknya terbatas, mau tidak mau anchor utama yang digunakan adalah BI Rate terlebih dahulu," ujar Tauhid.

Sebelumnya, Bank Indonesia kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen.

Keputusan tersebut ditetapkan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI sebagai upaya memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan bahwa meskipun suku bunga acuan meningkat, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga.

>>> Kawasaki Perkenalkan Tiga Model Baru di Jakarta Fair 2026

Hal itu didukung kuatnya permintaan domestik, terutama dari konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah yang masih menjadi penopang utama aktivitas ekonomi nasional.