Kenaikan BI Rate yang semakin agresif dinilai menjadi strategi Bank Indonesia (BI) untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik di tengah tingginya ketidakpastian global.

Langkah ini diyakini bertujuan menahan arus keluar modal sekaligus menarik kembali minat investor asing ke pasar keuangan Indonesia.

>>> Coway Indonesia Luncurkan Pemurni Air Slim Stand CHP-5730R

Hal ini terutama relevan ketika suku bunga Amerika Serikat masih bertahan tinggi dan sentimen pasar global belum sepenuhnya kondusif.

Strategi Front-Loading BI

Ekonom senior sekaligus Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, menilai keputusan BI menaikkan suku bunga acuan merupakan bagian dari strategi front-loading.

Strategi ini merupakan langkah antisipatif terhadap kebijakan moneter AS.

"Kalau kita lihat, ada strategi front-loading dari BI yang merespons bertahannya suku bunga AS.

Dengan adanya rumor The Fed akan kembali menaikkan suku bunga, BI memilih bergerak lebih dulu agar tidak terlambat.

Kalau tidak, risiko capital outflow akan semakin sulit dikendalikan," ujar Tauhid kepada Kompas. com, Kamis (18/6/2026).

Menurut dia, faktor lain yang mendorong kenaikan BI Rate adalah tren penurunan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dalam beberapa hari terakhir.

Kondisi tersebut berpotensi mengurangi minat investor terhadap instrumen keuangan domestik sehingga diperlukan insentif tambahan melalui kenaikan suku bunga.

"Yield SBN sempat turun dan itu mengurangi minat pasar.

Salah satu caranya adalah menaikkan BI Rate agar yield SBN tetap menarik sehingga bisa mendorong aliran modal masuk.

Saya kira langkah ini juga dapat membantu memperkuat nilai tukar rupiah," ujarnya.

>>> MPMRent Gandeng Wuling Motors Sediakan 50 Unit Kendaraan Listrik untuk Korporasi