Puasa mutih merupakan salah satu ritual keagamaan atau adat yang menerapkan aturan makan sangat ketat. Pelaku ritual ini hanya diperbolehkan mengonsumsi makanan dan minuman yang berwarna putih.

Tradisi puasa mutih berkembang di tengah masyarakat Jawa sejak lama.

>>> Kenali Perbedaan Lip Balm dan Lip Serum untuk Perawatan Bibir

Ritual ini dibahas dalam buku Siapa Berpuasa Dimudahkan Urusannya karya Khalifa Zain Nasrullah sebagai bagian dari laku spiritual lokal.

Secara umum, masyarakat menjalankan puasa mutih dalam dua metode berbeda.

Metode pertama berlangsung sejak terbit fajar hingga matahari terbenam, sementara metode kedua dilakukan penuh selama 24 jam tanpa jeda.

Meskipun memiliki durasi yang berbeda, kedua jenis puasa mutih tersebut mempunyai tujuan serupa, yakni melatih diri melalui pembatasan asupan makanan.

Tata cara pelaksanaannya dinilai cukup khas dibandingkan ibadah puasa pada umumnya.

Pada metode fajar hingga magrib, pelaku menahan diri dari lapar dan haus sepanjang hari, lalu berbuka hanya dengan nasi putih dan air putih.

Sementara pada metode 24 jam, pelakunya tidak makan dan minum sehari penuh dan menutupnya dengan menu yang sama.

Aturan khusus puasa mutih membatasi asupan pada makanan murni tanpa tambahan rasa. Beberapa ketentuan ketat yang harus dipatuhi meliputi menghindari garam, gula, serta seluruh jenis bumbu tambahan.

Makanan pokok yang diizinkan hanya berupa nasi putih murni atau roti tawar putih tanpa selai.

Untuk kebutuhan protein, pelaku bisa mengonsumsi putih telur rebus serta tahu putih rebus yang diolah tanpa garam.

Minuman pun dibatasi pada air putih atau susu putih murni tanpa pemanis.

Buku Laku Prihatin karya Iman Budhi Santosa menyebutkan bahwa puasa mutih biasanya dilakukan dalam hitungan hari ganjil.