>>> Presiden Setujui Anggaran Rp100,1 Triliun untuk Pemulihan Pascabencana

"Pelatihan sekarang pasti terasa sangat bermanfaat, tetapi harus dilakukan upgrading terus-menerus dan dilakukan pengembangan terus-menerus sesuai dengan basis-basis kebutuhannya," kata Zudan dalam acara Garuda AI Impact Summit 2026.

Zudan menggarisbawahi bahwa pemanfaatan AI ke depan harus bersifat tematik karena kebutuhan teknologi di sektor kesehatan, pendidikan, atau kepegawaian memiliki karakteristik data yang berbeda.

"Sektor layanan kesehatan berbeda dengan sektor layanan administrasi kependudukan, berbeda dengan sektor layanan pendidikan, berbeda dengan sektor layanan keagamaan," ujarnya.

"Ke depan, pemanfaatan teknologi berbasis AI harus bersifat tematik. Pelatihannya sesuai dengan urusan-urusan pemerintahan dan sektor-sektor layanannya," kata Zudan.

Sementara itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika turut mengidentifikasi tiga strategi utama guna mengatasi kesenjangan kompetensi teknologi informasi di lingkungan birokrasi nasional.

Menteri Komunikasi dan Informatika Meutya Hafid menyatakan pemerintah menggenjot pelatihan digital bagi 355 ribu ASN, mengintegrasikan platform informasi antarinstansi, serta membangun pusat inovasi di setiap lembaga.

Berdasarkan data kuartal pertama tahun 2026, Indeks Efisiensi Tata Kelola Indonesia berada di angka 78,4, dan penerapan strategi digital ini ditargetkan mampu menaikkan skor tersebut menjadi 85 pada akhir tahun.

>>> HUT Jakarta: Pemkot Jaktim Gencarkan Kerja Bakti dan Pilah Sampah

Guna mempercepat integrasi sistem ini, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi juga telah menggelar Kickoff Meeting Pengembangan Portal Administrasi Pemerintahan Bidang Layanan Aparatur Negara atau SmartASN untuk menyamakan rencana eksekusi periode 2026-2028.