OpenAI Raup Pendapatan Rp 355 Triliun, Rugi Bersih Membengkak
Perusahaan kecerdasan buatan OpenAI berhasil mencatatkan pendapatan hingga 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp 355 triliun sepanjang tahun 2025.
Angka tersebut melonjak 10 kali lipat dibandingkan tahun 2023.
>>> Bank Indonesia Naikkan BI-Rate Jadi 5,75 Persen Demi Stabilitas
Namun, di balik pertumbuhan itu, kerugian bersih perusahaan justru membengkak menjadi 39 miliar dolar AS atau setara Rp 693 triliun.
Laporan keuangan yang diajukan ke Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) Amerika Serikat menunjukkan pendapatan berkala OpenAI mencapai 13,07 miliar dolar AS pada 2025, naik dari 3,7 miliar dolar AS pada tahun sebelumnya.
Financial Times melaporkan pendapatan bulanan OpenAI mendekati 2 miliar dolar AS pada akhir 2025. Meski pendapatan melonjak, pengeluaran operasional perusahaan juga meningkat drastis.
Biaya Riset dan Operasional Membengkak
Biaya riset dan pengembangan (R&D) OpenAI naik dari 7,81 miliar dolar AS pada 2024 menjadi 19,18 miliar dolar AS pada 2025.
Dana tersebut digunakan untuk melatih model AI baru dan membayar biaya R&D ke Microsoft sebesar 10,59 miliar dolar AS.
Biaya cost of revenue, yang mencakup penyediaan dan distribusi layanan, juga meningkat dari 2,65 miliar dolar AS menjadi 7,5 miliar dolar AS.
>>> Pemerintah Percepat Hilirisasi Perkebunan Rakyat 870 Ribu Hektare
Lonjakan ini dipicu oleh kebutuhan daya komputasi untuk memproses miliaran permintaan pengguna ChatGPT. Sektor penjualan dan pemasaran juga mencatat kenaikan dari 1,11 miliar dolar AS menjadi 5,73 miliar dolar AS.
Akibatnya, kerugian operasional OpenAI meningkat menjadi 20,92 miliar dolar AS pada 2025, dari 8,78 miliar dolar AS pada 2024.
Meski nominal kerugian membesar, rasio kerugian terhadap pendapatan justru membaik dari 237 persen menjadi 160 persen. Ini menunjukkan pertumbuhan pendapatan lebih cepat dibandingkan kenaikan kerugian operasional.
Dampak Restrukturisasi Perusahaan
Lonjakan rugi bersih hingga 39 miliar dolar AS sebagian besar disebabkan oleh biaya akuntansi non-operasional. Beban ini muncul setelah OpenAI mengubah struktur korporasi menjadi entitas komersial pada 2025.
Sumber internal menyebutkan beban non-operasional terkait restrukturisasi mencapai sekitar 30 miliar dolar AS. Tanpa biaya tersebut, rugi bersih riil OpenAI pada 2025 diperkirakan hanya 8 miliar dolar AS.
>>> TNI AU Resmikan Skuadron Udara 18, Rumah bagi Pesawat Falcon 8X
OpenAI memproyeksikan perusahaan baru akan mulai menghasilkan keuntungan komersial pada tahun 2030. Untuk mencapai target itu, efisiensi biaya operasional, terutama pelatihan model AI, harus dikendalikan.
Update Terbaru
Menkes Dukung Pembangunan RS Tipe A Yayasan UHN untuk Perkuat Layanan Kesehatan
Kamis / 18-06-2026, 20:08 WIB
Pemprov Kalteng Raih Opini WTP 12 Kali Berturut-turut
Kamis / 18-06-2026, 20:08 WIB
MSCI Review Pasar Modal: Saham Big Cap Berpotensi Untung
Kamis / 18-06-2026, 20:05 WIB
Apindo Soroti Dampak Pemadaman Listrik terhadap Produktivitas Usaha
Kamis / 18-06-2026, 20:05 WIB
MSCI Review Pasar Modal Indonesia Berpotensi Untungkan Saham Big Cap
Kamis / 18-06-2026, 20:04 WIB
Grup Kpop LNGSHOT Tampil di Singapura, Sapa Penggemar Basket Muda
Kamis / 18-06-2026, 20:04 WIB
Pemda DIY Ajak Masyarakat Bergerak Nyata Hadapi Perubahan Iklim
Kamis / 18-06-2026, 20:04 WIB
Real Madrid Dikabarkan Capai Kesepakatan dengan Enzo Fernandez
Kamis / 18-06-2026, 20:04 WIB
Indef: Komitmen Manajer KDMP Lebih Tepat Dijaga dengan Kontrak Kerja
Kamis / 18-06-2026, 20:04 WIB
Real Madrid Resmi Rekrut Ibrahima Konate Gratis hingga 2030
Kamis / 18-06-2026, 20:04 WIB
PT KAI Tutup 144 Pelintasan Sebidang Prioritas Demi Keselamatan
Kamis / 18-06-2026, 20:01 WIB
Rusia dan ASEAN Sepakat Perkuat Kemitraan Strategis di KTT Kazan
Kamis / 18-06-2026, 20:01 WIB
Kementan Perkuat Industri Peternakan Melalui Indo Livestock 2026
Kamis / 18-06-2026, 20:01 WIB
MIT Pertahankan Posisi Pertama di QS World University Rankings 2027
Kamis / 18-06-2026, 20:00 WIB






