Menjadi Influencer Kebaikan di Ruang Digital

Abu Rokhmad mendorong penyuluh agama untuk mengambil peran sebagai influencer kebaikan.

Menurutnya, ruang digital membutuhkan lebih banyak konten positif yang mengajarkan nilai-nilai agama, toleransi, kepedulian sosial, serta moderasi beragama.

Selama ini, media sosial sering kali dipenuhi informasi provokatif, ujaran kebencian, hingga narasi yang memecah belah. Kehadiran penyuluh agama dapat menjadi solusi untuk menghadirkan konten yang lebih konstruktif.

Dengan pendekatan kreatif dan bahasa yang mudah dipahami, penyuluh agama dapat menjangkau generasi muda yang mungkin tidak selalu hadir dalam pengajian konvensional.

Melalui video pendek, podcast, infografis, hingga tulisan edukatif, pesan keagamaan dapat disampaikan secara efektif.

Para pakar komunikasi menyebut era saat ini sebagai era disrupsi informasi, ketika masyarakat menerima ribuan informasi setiap hari melalui berbagai platform digital.

Media sosial telah mengubah pola komunikasi dari satu arah menjadi interaktif dan partisipatif.

>>> Harga Emas Antam Naik Rp4.000, Kini Rp2.733.000 per Gram

Keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh isi pesan, tetapi juga kemampuan menyesuaikan metode dan media dengan kondisi masyarakat.

Penggunaan media sosial dapat menjadi strategi dakwah yang efektif untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

Abu Rokhmad menegaskan bahwa penyuluh agama memiliki posisi strategis dalam kehidupan masyarakat.

Mereka bukan hanya penyampai materi keagamaan, tetapi juga pendamping umat yang hadir dalam berbagai persoalan sosial, mulai dari pembinaan keluarga hingga penyelesaian konflik.

"Para penyuluh agama adalah ujung tombak pembinaan keagamaan.

Mereka tidak bekerja di balik meja, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat dan memahami denyut persoalan umat," ungkap Abu Rokhmad.

Kemenag terus memperkuat kualitas SDM penyuluh melalui berbagai program pelatihan, pendidikan formal, seminar, sertifikasi, hingga uji kompetensi.