Kepolisian New York (NYPD) meningkatkan status siaga untuk mencegah lonjakan perdagangan seks selama Piala Dunia 2026.

Langkah ini diambil untuk menjaga keamanan publik selama turnamen sepak bola terbesar di dunia.

>>> Wamendagri: SE Nobar Piala Dunia Dorong Ekonomi Daerah

Kehadiran lebih dari 1,2 juta pengunjung di wilayah New York dan New Jersey dikhawatirkan dimanfaatkan jaringan kriminal.

Mereka diduga mengincar perempuan dan anak-anak untuk dieksploitasi.

Otoritas keamanan kini dalam status siaga tinggi untuk memantau aktivitas mencurigakan, baik di lokasi keramaian maupun melalui jaringan daring.

Peningkatan aktivitas kriminal ini diduga memanfaatkan antusiasme suporter internasional.

Tanda-Tanda Perdagangan Manusia yang Perlu Diwaspadai

Asisten Komisioner Unit Kebijakan dan Perencanaan Kekerasan Berbasis Gender NYPD, Kathleen Baer, mengimbau masyarakat peka terhadap tanda-tanda perdagangan manusia.

Bersama Letnan Christopher Zizza dari Unit Korban Khusus, ia mengidentifikasi sejumlah indikator.

"Mereka bisa saja berpakaian tidak pantas, bersama orang yang lebih tua, dan tampak tidak mampu berbicara untuk diri sendiri," ujar Kathleen Baer.

Korban eksploitasi sering menunjukkan rasa takut saat berinteraksi.

Meski penanganan kasus perdagangan manusia dilakukan sepanjang tahun, perhelatan besar seperti Piala Dunia meningkatkan risiko eksploitasi. Korban tidak hanya dari luar negeri, tetapi juga warga lokal New York.

>>> DPR Ajak UMKM Perempuan Riau Perkuat Empat Pilar Kebangsaan

Fokus Pengawasan di Hotel, Terminal, dan Dunia Maya

NYPD meningkatkan operasi penegakan hukum dan penyelidikan menjelang turnamen. Fokus pengamanan diarahkan ke pusat transit, terminal bus, hotel, dan lokasi nonton bareng.

Selain pengawasan lapangan, tim khusus melakukan patroli siber untuk memantau aktivitas perdagangan manusia di platform digital. Banyak transaksi ilegal kini berpindah ke ruang daring.