Keinginan memiliki kulit mulus kini tidak hanya dialami orang dewasa. Anak-anak dan remaja mulai terobsesi menggunakan produk perawatan kulit demi mencapai penampilan tanpa cela.

Kondisi ini dikenal dengan istilah cosmeticorexia, yaitu dorongan berlebihan untuk mendapatkan kulit sempurna. Para ahli khawatir dengan dampak psikologis dan kesehatan mental jangka panjang yang ditimbulkan.

>>> SELAMAT! Asnawi Mangkualam Resmi Lamar Yuriska Patricia di Tengah Laut pada 17 Juni 2026

Istilah cosmeticorexia semakin dikenal setelah otoritas Italia menindak sejumlah merek kecantikan yang menargetkan konsumen muda.

Dua peneliti asal Italia juga menerbitkan studi yang menyebut fenomena ini berpotensi menjadi gangguan klinis.

Dokter spesialis kulit dari University of Milan, Prof. Giovanni Damiani, melihat lonjakan kasus dermatitis iritan dan alergi pada pasien usia 8 hingga 14 tahun.

Banyak dari mereka memakai bahan aktif tanpa pengawasan medis.

"Mereka menggunakan produk kosmetik yang hampir sama," ujar Giovanni, seperti dikutip dari Guardian.

Ia menambahkan bahwa pasien muda tersebut memakai bahan aktif seperti alpha hydroxy acid (AHA) dan retinoid.

Selain merusak kulit, fenomena ini juga mengubah perilaku anak secara drastis. "Misalnya menolak keluar rumah tanpa makeup.

Mereka juga menggunakan kosmetik secara berlebihan atau terus-menerus menonton konten terkait kecantikan," jelasnya.

Kondisi serupa dialami oleh Butterfly Foundation yang menangani peningkatan pasien remaja dengan tekanan emosional akibat penampilan.

Manajer program klinis lembaga itu, Grace Collinson, mengatakan fokus berlebihan pada kondisi kulit dan dorongan mencapai penampilan sempurna semakin terlihat pada anak muda.

Meskipun cosmeticorexia dapat dialami siapa saja, kelompok pra-remaja dan remaja menjadi yang paling rentan. Bahkan, kecemasan terhadap fisik sudah muncul sejak usia dini.