Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengingatkan generasi muda untuk meningkatkan kesadaran digital agar tidak terjebak dalam fenomena "ilusi" algoritma di media sosial.

Menurutnya, ilusi algoritma berpotensi memanipulasi persepsi terhadap realitas sosial dan demokrasi di ruang digital jika tidak disadari.

>>> Aktris Daveigh Chase Meninggal Dunia pada Usia 35 Tahun

"Massa bisa menunjukkan semua marah, atau semua orang sedang tenang, atau semua yang viral pasti benar.

Padahal, itu bisa hanya menunjukkan potongan realitas yang dibesarkan oleh algoritma," ujar Meutya dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Pesan itu disampaikan Meutya secara daring dalam peluncuran buku "Demokrasi Digital: Viralitas, Algoritma, dan Suara Gen Z" karya Andi Ilham Paulangi di IPB University, Bogor, Rabu (17/6).

Meutya mengatakan kebebasan berpendapat kini tidak hanya terjadi di ruang fisik, tetapi juga tumbuh di ruang digital melalui media sosial, kolom komentar, dan platform interaksi daring lainnya.

Namun, karena adanya algoritma personalisasi, ruang digital sering menghadirkan persepsi yang tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya.

Algoritma personalisasi dinilai dapat memperbesar potongan-potongan realitas tertentu sehingga menciptakan kesan yang menyesatkan tentang pandangan publik.

Meutya mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi di media sosial dan menumbuhkan kesadaran digital.

Kesadaran digital menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh opini ekstrem atau kemarahan publik yang tampak dominan di ruang digital, tetapi belum tentu mencerminkan fakta sosial yang sesungguhnya.

Pesan ini ditujukan khusus untuk generasi muda karena generasi Z memiliki posisi strategis dalam menentukan arah perkembangan demokrasi Indonesia di masa depan.

Kemampuan generasi muda dalam memahami cara kerja algoritma dan memilah informasi secara kritis akan menjadi modal penting untuk menjaga kualitas ruang publik digital.