Konflik tersebut telah mengganggu produksi, distribusi, dan rantai pasok perdagangan global, menekan prospek pertumbuhan ekonomi dunia yang diprediksi tetap rendah sebesar 3,0 persen pada 2026.

Tekanan inflasi global diperkirakan naik menjadi sekitar 4,4 persen, mendorong sejumlah bank sentral menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi.

BI juga mencermati kemungkinan kenaikan Fed Funds Rate ke depan seiring prospek inflasi AS yang lebih tinggi, serta imbal hasil US Treasury yang masih berada pada level tinggi.

Per 17 Juni 2026, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di 4,49 persen dan tenor dua tahun di 4,18 persen.

Dengan kondisi tersebut, aliran modal global ke negara berkembang belum kembali kuat dan cenderung mengarah ke aset safe haven di negara maju.

>>> Prospek Pertumbuhan CMRY Menarik di Tengah Tekanan Bahan Baku

Ke depan, perkembangan negosiasi antara AS dan Iran terkait penyelesaian konflik di Timur Tengah diperkirakan masih dinamis, sehingga diperlukan kewaspadaan serta penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter.