Mahasiswa pascasarjana asal Malaysia, Chew Sien Ping, sudah terbiasa menjelajah di luar bidang kedokteran.

Baginya, kecerdasan buatan (AI) bukan sekadar perangkat, melainkan jalur cepat yang mampu menyederhanakan kerumitan dan membuka berbagai kemungkinan baru.

>>> Industri Kosmetik Indonesia Tumbuh 6,3 Persen per Tahun, Nilai Pasar Capai Rp110 Triliun

"Saya mengerjakan proyek-proyek interdisipliner yang melibatkan bidang kedokteran dan teknik.

AI membantu saya mengintegrasikan informasi dari berbagai bidang dan perspektif dengan cepat," kata Chew, yang sedang meneliti pencitraan molekuler untuk penyakit mata kompleks dan antarmuka otak-komputer visual di Universitas Jiao Tong Shanghai.

Chew termasuk di antara lebih dari 500 peserta dari badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), organisasi pemuda internasional, serta lebih dari 120 negara dan kawasan yang menghadiri Forum Pengembangan Pemuda Dunia 2026.

Forum tersebut diselenggarakan pekan ini di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei di China tengah.

Para partisipan forum terlibat dalam diskusi yang hidup mengenai bagaimana AI mengubah penelitian, kewirausahaan, pendidikan, dan pembangunan sosial.

Dalam Pekan Akselerasi Program Pengembangan Pemuda Global di forum tersebut, penyelenggara memilih lebih dari 170 proyek pengembangan pemuda dari lebih dari 70 negara dan kawasan.

Inisiatif-inisiatif tersebut dikelompokkan ke dalam delapan kategori, termasuk "AI Plus".

Di antara para inovator yang paling banyak dibicarakan adalah ekonom Brasil Felipe Bailez, yang timnya mengembangkan Palver Intelligence, sebuah platform berbasis AI yang dirancang untuk memantau dan menganalisis arus informasi di media sosial dan media tradisional.

>>> BI Perluas Pendanaan Luar Negeri Perbankan untuk Dorong Kredit

"Kami memantau seluruh ekosistem informasi, termasuk Facebook, Instagram, Twitter (yang kini berganti nama menjadi X), YouTube, WhatsApp, serta televisi dan radio," ujar Bailez.