"Dengan data dan AI ini, kami dapat mengidentifikasi adanya disinformasi atau berita palsu, dan kemudian membantu perusahaan-perusahaan serta pemerintah di Brasil menavigasi ekosistem yang sangat membingungkan ini."

Sementara beberapa partisipan berfokus pada inovasi mutakhir, partisipan lainnya menyoroti potensi AI untuk mempersempit kesenjangan pembangunan yang telah lama ada.

"Dengan sumber daya data dan kemampuan AI, banyak hal yang dulunya tampak mustahil atau membutuhkan sumber daya yang sangat besar kini menjadi mungkin," ungkap Gao Yongkai, seorang mahasiswa pascasarjana dari Universitas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Hong Kong (Guangzhou).

Tim Gao mendirikan pojok pembelajaran AI di dalam sebuah toko buku desa di Guangzhou, ibu kota Provinsi Guangdong, China selatan, yang telah memberikan manfaat bagi lebih dari 3.500 penduduk.

Pojok tersebut menawarkan bimbingan AI gratis dalam bidang penulisan, pelatihan bahasa Inggris lisan, dan pendidikan sains, serta mendorong para pelajar untuk memanfaatkan perangkat AI guna mendokumentasikan dan mempromosikan budaya setempat.

Dalam pidatonya di forum tersebut, A Dong, pejabat senior di bidang pemuda di China, menggambarkan kaum muda sebagai generasi yang paling berpeluang untuk membentuk masa depan AI.

>>> Bahlil Pastikan Tidak Ada Rencana Pemadaman Listrik ke Depan

"Kami berharap kaum muda dari semua negara dapat bekerja sama untuk meluncurkan proyek-proyek pembangunan yang lebih berdampak, menjembatani kesenjangan pembangunan, mendorong globalisasi ekonomi yang lebih inklusif, serta membangun dunia dengan kemakmuran bersama," imbuhnya.