Kapal Lanning 19 yang membawa lebih dari 10.000 ton peralatan dan material bertolak dari Pelabuhan Yangluo, Wuhan, menuju Pelabuhan Sambalagi, Indonesia, pada 16 Juni 2026.

Pelayaran tersebut merupakan perjalanan ke-81 sejak jalur pelayaran langsung sungai-laut Wuhan–Indonesia resmi dibuka pada 30 November 2024.

>>> Kemendiktisaintek Siapkan Rp200 Miliar untuk Pembinaan PTS

Seluruh muatan kapal ditujukan untuk mendukung proyek pembangunan GEM Group di Indonesia.

Secara keseluruhan, jumlah pelayaran dua arah pada rute Pelabuhan Yangluo–Indonesia telah melampaui 100 kali.

Total volume angkutan mencapai 620.000 ton dengan nilai perdagangan sekitar US$1,4 miliar.

Nilai tersebut menyumbang lebih dari 50 persen perdagangan antara Provinsi Hubei dan Indonesia.

Mengatasi Hambatan Logistik

Jalur pelayaran langsung Wuhan–Indonesia diprakarsai oleh Komite Provinsi Hubei Partai Komunis Tiongkok bersama Pemerintah Provinsi Hubei dengan dukungan otoritas maritim dan pelabuhan setempat.

Pembukaan rute tersebut bertujuan mengatasi hambatan logistik lintas negara yang selama ini dihadapi perusahaan-perusahaan di Hubei.

Sebelum jalur ini beroperasi, sebagian besar barang ekspor dan impor dari Hubei harus melalui pelabuhan pesisir seperti Shanghai, Huangpu, atau Ningbo.

Setelah rute langsung dibuka, kapal dapat berlayar dari Sungai Yangtze melalui Laut Tiongkok Timur dan Laut Tiongkok Selatan menuju Indonesia.

Menurut Chairman GEM Xu Kaihua, waktu pengiriman melalui rute tersebut dapat dipersingkat lebih dari tujuh hari.

Biaya logistik dapat ditekan lebih dari 300 yuan per ton, sehingga meningkatkan daya saing perusahaan di kawasan pedalaman Tiongkok di pasar internasional.

>>> Kementerian ESDM Pastikan Biosolar B50 Aman untuk Mesin Diesel

Selain melayani Indonesia, kapal pada jalur tersebut juga dapat singgah di Filipina, Malaysia, dan Singapura, memperluas akses ke pasar Asia Tenggara.