Sejarah perkeretaapian di Lampung telah berlangsung lebih dari satu abad.

Jalur yang dibangun sejak 1911 oleh Zuid-Sumatra Staatsspoorwegen (ZSS) pada masa kolonial Belanda kini menjadi penggerak mobilitas dan distribusi barang strategis di Sumatra bagian selatan.

>>> Menkum Inisiatif Bangun Sekolah Rakyat Tanpa APBN

Arahan Presiden Prabowo Subianto agar pengembangan sistem kereta api nasional mendapat perhatian utama memberikan konteks baru bagi sejarah panjang ini.

KAI terus memperkuat peran rel dalam menghubungkan pusat produksi, pelabuhan, dan kota.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyatakan bahwa sejarah rel di Lampung menunjukkan kereta api hadir untuk membuka akses.

Dari jalur hasil bumi, pelabuhan, hingga pusat permukiman, kereta api membentuk konektivitas yang hingga kini menjadi bagian penting kehidupan masyarakat dan ekonomi wilayah.

Saat ini, wilayah operasi KAI di Lampung dan sebagian Sumatra Selatan memiliki jalur operasi sepanjang 451,280 km dengan 47 stasiun.

Jaringan ini membentang dari Bandar Lampung hingga Prabumulih, dengan Stasiun Tanjungkarang dan Tarahan sebagai simpul besar.

Pada layanan penumpang, KAI mengoperasikan KA Rajabasa relasi Tanjungkarang–Kertapati dan KA Kuala Stabas relasi Tanjungkarang–Baturaja PP.

Sepanjang Januari–Mei 2026, tercatat 498.104 pelanggan, dengan rincian 185.167 pelanggan untuk KA Rajabasa dan 312.937 untuk KA Kuala Stabas.

Di sektor barang, kereta api memegang peran besar dalam rantai logistik Sumatra bagian selatan.

Pada periode yang sama, KAI melayani 11.437.080 ton barang melalui 4.029 perjalanan kereta api barang.

>>> Pemerintah Finalisasi Anggaran Program Magang Nasional 2026

Batu bara dari Tanjung Enim Baru ke Tarahan menjadi komoditas terbesar dengan 11.280.793 ton.

Komoditas lain yang diangkut meliputi semen zak 83.680 ton, BBM 52.593 ton, dan semen curah 20.014 ton.