Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menyalurkan bantuan Unit Layanan Disabilitas (ULD) hingga Rp40 juta per kampus.

Langkah ini bertujuan memperkuat akses pendidikan bagi 3.128 mahasiswa disabilitas di Indonesia.

>>> Pemerintah Belum Terapkan Potongan Tarif Ojek Online Delapan Persen

Bantuan tersebut diumumkan pada Kamis (18/6/2026). Data menunjukkan kelompok tunanetra menjadi yang terbesar, mencapai 1.727 mahasiswa.

Peningkatan Jumlah Mahasiswa Disabilitas

Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Diktisaintek Kemendiktisaintek, Beny Bandanadjaja, mengonfirmasi peningkatan jumlah mahasiswa berkebutuhan khusus. Mereka terdata resmi di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi.

"Jumlah mahasiswa disabilitas ini tersebar di 282 perguruan tinggi," kata Beny Bandanadjaja.

Pemerintah menyiapkan bantuan dana sebesar Rp30 juta untuk kampus yang baru mendirikan ULD. Sementara itu, Rp40 juta dialokasikan untuk penguatan layanan yang telah berjalan.

"Fokus utama bantuan ini adalah memastikan seluruh aktivitas tridarma perguruan tinggi dapat diakses secara mandiri oleh mahasiswa disabilitas," ujar Beny Bandanadjaja.

Selain dana, pemerintah meluncurkan portal pendidikan inklusif. Portal ini menyediakan regulasi, panduan, serta data statistik untuk memperluas lingkungan kampus yang ramah disabilitas.

>>> KPK Periksa Delapan Pegawai Imigrasi Jakbar untuk Dalami Pemerasan

Meski demikian, tantangan di lapangan masih nyata. Ketersediaan bahan ajar digital yang ramah bagi mahasiswa tunanetra menjadi kendala utama.

Anggota Tim Pendidikan Tinggi Inklusif Ditjen Diktisaintek, Asep Supena, menjelaskan bahwa banyak dosen memberikan materi dalam bentuk digital.

Namun, file hasil pemindaian (scan) sering tidak dapat dibaca oleh screen reader.

Kendala lain muncul dari metode pembelajaran di ruang kelas yang terlalu bertumpu pada aspek visual. Informasi penting, termasuk tugas kuliah, kerap hanya ditampilkan di slide tanpa penjelasan verbal.

Masalah kian berlapis akibat keterbatasan gawai pembaca layar dan koleksi perpustakaan universitas yang masih didominasi buku cetak konvensional.

>>> Menhut Tegaskan Tak Ada Lagi Pembukaan Lahan dengan Cara Bakar

"Kondisi ini membuat mereka kesulitan memperoleh sumber belajar yang setara dengan mahasiswa lainnya," tutur Asep Supena.