>>> Kejagung Segel Gudang Motor Listrik Program Makan Bergizi Gratis

Kondisi ini membuat ruang untuk kembali menaikkan BI Rate menjadi lebih terbatas karena berisiko menambah tekanan terhadap sektor riil.

Pandangan serupa disampaikan oleh Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky yang memprediksi BI akan mempertahankan BI Rate di level 5,50 persen.

Menurutnya, kombinasi kenaikan suku bunga kumulatif 75 bps, intervensi valas, dan kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sudah memadai.

Teuku Riefky menilai bank sentral perlu mengevaluasi dampak dari seluruh kebijakan yang telah ditempuh sebelum mengambil langkah lanjutan.

"Kami berpandangan bahwa Bank Indonesia perlu mempertahankan suku bunga kebijakannya pada level 5,50 persen dalam Rapat Dewan Gubernur yang akan datang," kata Teuku Riefky.

Sementara itu, data inflasi Mei 2026 tercatat meningkat menjadi 3,08 persen secara tahunan dari 2,42 persen pada April.

Kenaikan inflasi tersebut utamanya dipicu oleh faktor pasokan, seperti kenaikan harga pangan dan penyesuaian harga energi.

Tekanan inflasi yang berasal dari sisi penawaran membuat efektivitas pengetatan moneter tambahan menjadi terbatas.

Di sisi lain, tingkat suku bunga yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan biaya pembiayaan dunia usaha sekaligus menahan investasi.

Meskipun demikian, tekanan terhadap mata uang rupiah dinilai belum sepenuhnya hilang.

Hingga perdagangan Rabu kemarin, rupiah masih berada di level Rp 17.762 per dollar AS setelah sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah di atas Rp 18.000 per dollar AS pada awal bulan.

Bank sentral sendiri tercatat telah menggunakan cadangan devisa sebesar 11,6 miliar dollar AS sepanjang tahun ini untuk menopang stabilitas nilai tukar.

>>> KPK Terima Informasi Dugaan Pemerasan di Imigrasi di Sejumlah Daerah

Ruang bagi BI untuk memangkas suku bunga ke depan juga masih terbatas selama tekanan terhadap rupiah belum benar-benar mereda.