Ekonom: BI Rate Perlu Dipertahankan di Level 5,5% pada RDG Juni 2026
“Pada Juni 2026, Bank Indonesia tetap optimis bahwa inflasi dapat dijaga dalam kisaran target, meskipun risiko jangka pendek meningkat akibat tekanan pasokan pangan yang masih berlanjut serta penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green 95,” jelas Riefky.
Faktor Global dan Prospek ke Depan
Dari sisi perekonomian global, ada angin segar dari kabar perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran sehingga Selat Hormuz dapat dibuka kembali.
Imbasnya harga minyak diharapkan dapat turun.
>>> Partai Populer Desak PSOE Cabut Keanggotaan Jose Luis Rodriguez Zapatero
Meskipun harga minyak telah turun dari puncaknya, dampak lag dari kenaikan biaya energi terhadap harga konsumen secara luas kemungkinan akan menjaga inflasi tetap tinggi dalam jangka pendek.
“Oleh karena itu, the Fed memiliki ruang yang terbatas untuk memangkas suku bunga, di mana sebagian analis memperkirakan tidak akan ada pemangkasan suku bunga sepanjang 2026,” terang Riefky.
Senada, Kepala Ekonom PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) Myrdal Gunarto memperkirakan BI akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 5,5%.
Tekanan rupiah yang telah mereda membuat BI tidak perlu mengambil langkah agresif.
“Kebutuhan amunisi moneter BI tidak setinggi periode beberapa pekan sebelumnya, terutama untuk kebijakan amunisi moneter yang melalui intervensi pasar dengan menyerap likuiditas dari market, terutama likuiditas dari luar untuk mendapatkan suplai valas untuk keperluan ini, kebijakan intervensi moneternya,” tuturnya.
Selain itu, Myrdal menyebut inflasi juga relatif masih terkendali yakni 3,08% year on year pada Mei 2026.
Menurutnya, inflasi saat ini tidak lagi menjadi concern BI khususnya imported inflation karena Amerika Serikat dan Iran telah mengumumkan perdamaian hingga harga minyak dunia yang turun di bawah level US$80/barel.
Myrdal menegaskan, bank sentral saat ini harus kembali pada kebijakan pro growth yakni akomodatif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih agresif karena sebelumnya sudah memangkas BI Rate sebesar 75 bps.
“Jadi waktunya sekarang untuk BI kembali fokus pada kebijakan yang sensenya itu lebih akomodatif.
Jadi kalau sekarang kami lihat BI belum ada urgensi yang untuk kenaikan BI rate lagi,” jelas dia.
>>> Polri Kerahkan 3.161 Personel Gabungan Amankan Eksekusi Hotel Sultan
Dia menekankan jika BI menaikkan suku bunga acuan dalam RDG kali ini, maka kontraproduktif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Update Terbaru
Saham BBCA Memerah ke Rp 6.125 akibat Tekanan Jual Pasca-Ex Date Dividen
Kamis / 18-06-2026, 10:53 WIB
PN Jakarta Pusat Eksekusi Lahan Eks Hotel Sultan, Ricuh Massa Pengadang
Kamis / 18-06-2026, 10:52 WIB
Rupiah Melemah Tertekan Pernyataan Hawkish The Fed
Kamis / 18-06-2026, 10:52 WIB
Ekonom: Proyek Panas Bumi Tarik Minat Pendanaan Global
Kamis / 18-06-2026, 10:52 WIB
Siswa SMA di Jaksel Meninggal Usai Terjatuh dan Terlindas Bus
Kamis / 18-06-2026, 10:52 WIB
Kemenag: Penyuluh agama harus manfaatkan medsos sebagai sarana dakwah
Kamis / 18-06-2026, 10:52 WIB
AAUI Ungkap Rencana Danantara Konsolidasi Asuransi BUMN
Kamis / 18-06-2026, 10:52 WIB
Kementerian ESDM Pastikan Mandatori Biodiesel B50 Berlaku 1 Juli 2026
Kamis / 18-06-2026, 10:52 WIB
Bank Ina Kaji Ulang Bunga Simpanan Usai BI Rate Naik ke 5,5%
Kamis / 18-06-2026, 10:49 WIB
KTO Beri Diskon Tiket Bus untuk Turis Asing, Ini Syaratnya
Kamis / 18-06-2026, 10:49 WIB
Kementerian ESDM Matangkan Rencana Mandatori Bioetanol E5 Mulai Juli 2026
Kamis / 18-06-2026, 10:48 WIB
OJK Imbau Investor Saham Tetap Bijak Menjelang Pengumuman MSCI
Kamis / 18-06-2026, 10:48 WIB
Portugal Ditahan Imbang DR Kongo 1-1 pada Laga Pembuka Piala Dunia 2026
Kamis / 18-06-2026, 10:48 WIB
Timnas Jerman Temukan Ular Berbisa di Markas Latihan Piala Dunia 2026
Kamis / 18-06-2026, 10:48 WIB






