Kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz mulai memicu reli aset-aset emerging market.

Meredanya ketegangan geopolitik membuat investor global kembali memburu aset berisiko dan meningkatkan aliran dana asing ke sejumlah pasar berkembang.

>>> Harga Minyak Dunia Anjlok Hampir Lima Persen ke Level Terendah Tiga Bulan

Berdasarkan data Bloomberg, indeks saham negara berkembang MSCI Emerging Markets melonjak 2,8% dan mendekati rekor tertinggi yang sempat dicapai pada awal Mei 2026.

Dana global mencatat pembelian bersih saham di Vietnam senilai US$ 160,4 juta pada 15 Juni 2026, angka tertinggi sejak September 2020.

Dampak ke Indonesia

Co-Founder Pasardana & Pengamat Pasar Modal Hans Kwee mengatakan meredanya konflik AS-Iran menjadi katalis positif bagi aset-aset emerging market.

Tekanan dari harga minyak dan penguatan dolar AS mulai berkurang. "Selama konflik terjadi, investor cenderung meninggalkan emerging market dan memilih negara maju.

Ketika perang mereda, sentimen pasar menjadi lebih positif terhadap negara berkembang termasuk Indonesia," katanya.

Hans menjelaskan selama perang berlangsung Indonesia menghadapi tekanan berlapis karena merupakan negara pengimpor minyak. Kenaikan harga minyak memperbesar risiko fiskal melalui subsidi energi sekaligus menekan nilai tukar rupiah.

Menurut dia, kesepakatan AS-Iran dapat menjadi sentimen positif jangka pendek. Namun, pasar masih perlu mencermati proses normalisasi pasokan minyak yang diperkirakan membutuhkan waktu cukup panjang.

"Minyak tidak akan langsung kembali ke level US$ 60 per barel–US$ 70 per barel.

Kemungkinan masih bertahan di kisaran US$ 80 per barel–US$ 90 per barel sehingga dampak positifnya terhadap pasar tidak akan sepenuhnya instan," kata Hans.

Associate Director Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menyebut penguatan IHSG belakangan ini lebih banyak didorong sentimen eksternal dibandingkan perbaikan fundamental dalam negeri.