Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan dapat menyentuh level 7.500 pada akhir tahun 2026 jika sentimen global membaik dan aliran modal asing kembali masuk ke pasar saham domestik.

Proyeksi ini disampaikan oleh dua pengamat pasar modal, Edwin Sebayang dan Teguh Hidayat, dalam analisis mereka terhadap pergerakan IHSG ke depan.

>>> Harga Emas Perhiasan di Raja Emas dan Hartadinata Turun 16 Juni 2026

Pada perdagangan Senin (15/6/2026), IHSG ditutup menguat 4,12 persen ke posisi 6.254,96. Dalam sepekan, indeks tercatat menguat 17,09 persen.

Meski demikian, secara year to date (YTD), IHSG masih melemah 27,66 persen dan lebih lesu dibandingkan bursa negara berkembang lainnya.

Tekanan juga terjadi pada nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp 18.000 per dolar AS, mendorong Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan ke 5,5 persen.

Pada penutupan Selasa (16/6/2026), rupiah berada di Rp 17.725 per dolar AS, melemah 0,09 persen dari hari sebelumnya.

Dua Kekuatan yang Mempengaruhi Pasar

Direktur PT Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang, menilai pasar saham domestik saat ini dipengaruhi dua kekuatan eksternal dan internal yang saling bertolak belakang.

Katalis positif eksternal meliputi meredanya tensi geopolitik Timur Tengah, stabilisasi harga minyak, meningkatnya risk appetite global, dan penguatan indeks MSCI Emerging Markets.

Namun, faktor internal seperti stabilitas rupiah, kredibilitas kebijakan, independensi bank sentral, disiplin fiskal, dan tata kelola pasar modal menjadi perhatian utama investor asing.

"Indonesia saat ini menghadapi persoalan domestik yang relatif unik dibandingkan emerging market lain.

Bahkan 2026 menjadi salah satu periode net sell asing terbesar dalam beberapa dekade terakhir," ujar Edwin kepada Kontan, Selasa (16/6/2026).