Rencana lembaga pemeringkat S&P yang akan mengumumkan rating Indonesia pada 18 Juni 2026 diperkirakan memicu volatilitas jangka pendek pada rupiah, yield obligasi, dan IHSG.

Jika terjadi skenario ekstrem berupa penurunan status menjadi non-investment grade, dampaknya mencakup kenaikan cost of fund pemerintah, lonjakan yield SUN, peningkatan CDS, hingga koreksi valuasi saham.

Meski begitu, peluang Indonesia kehilangan status investment grade dinilai masih kecil.

"Rumor yang beredar lebih mengarah pada potensi revisi outlook atau peringatan terhadap risiko fiskal dan tata kelola, bukan langsung kehilangan investment grade," kata Edwin.

Aliran modal asing global diproyeksikan masih cenderung memilih negara berkembang lain seperti India, Taiwan, Korea Selatan, Brasil, dan Meksiko.

Sebaliknya, investor ritel domestik dinilai tidak akan meninggalkan pasar saham dan justru memanfaatkan momentum koreksi untuk akumulasi pembelian.

>>> Harga iPhone 16 Pro Max di iBox 2 Mei 2026 Turun Drastis, Cek Rinciannya

Tiga Skenario Pergerakan IHSG

Edwin Sebayang memetakan tiga skenario arah IHSG hingga akhir 2026.

Skenario pertama memproyeksikan IHSG pada rentang 5.200 – 6.000 jika terjadi downgrade rating, pelemahan rupiah berlanjut, dan aksi jual asing masif.

Skenario kedua menargetkan IHSG di level 6.600 – 6.900 dengan asumsi rating bertahan, rupiah stabil, dan pertumbuhan laba emiten moderat.

Skenario ketiga menempatkan IHSG pada target optimis 7.000 – 7.500 jika sentimen global pulih, modal asing kembali masuk, dan isu penyesuaian MSCI mereda.

"Saat ini probabilitas terbesar masih berada pada skenario kedua," ungkap Edwin.

Katalis positif yang berpotensi menyokong pasar pada paruh kedua tahun ini meliputi potensi arus masuk modal ke emerging market, rendahnya valuasi saham, dan prospek pemangkasan suku bunga global.