Perbaikan persepsi investor asing juga dapat terwujud jika pemerintah mampu menyelesaikan kritik MSCI dan FTSE mengenai transparansi pasar dan aturan free float.

Sementara itu, risiko pembatas pertumbuhan indeks masih bersumber dari ancaman penurunan rating, depresiasi rupiah, kenaikan BI Rate, dan perlambatan ekonomi.

Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat, memproyeksikan target wajar IHSG di level 7.000 dan berpeluang menuju 7.000-7.500 pada akhir tahun seiring meredanya volatilitas.

"Sentimen penyebab volatilitas sudah mereda di paruh kedua 2026.

Dengan level IHSG di situasi krisis tetapi tidak ada krisis, saham bisa naik lagi pelan-pelan didorong penilaian fundamental pada kinerja emiten," tuturnya.

Menghadapi kondisi saat ini, pelaku pasar disarankan menerapkan strategi investasi terukur, menghindari all in, menerapkan dollar cost averaging (DCA), fokus pada kualitas emiten, dan memperbesar horizon investasi.

Sektor defensif dan berkinerja solid yang direkomendasikan meliputi perbankan kapitalisasi besar, komoditas logam mulia, nikel, telekomunikasi, dan konsumer.

Emiten spesifik yang layak dicermati antara lain BBCA, BBRI, BMRI, ANTM, INCO, MBMA, TLKM, ICBP, dan MYOR.

>>> Jadwal MPL S17 Pekan 8 Hari 3: Tiga Laga Penentu Tiket Playoff

Teguh menambahkan bahwa koreksi harga saham perbankan akibat hengkangnya investor asing dapat menjadi momentum masuk yang aman bagi investor ritel.