Melatonin banyak dijual bebas sebagai suplemen di berbagai negara, namun di Jerman dan Belgia, zat ini dikategorikan sebagai obat.

Perbedaan status ini menunjukkan pentingnya memeriksa aturan setempat sebelum mengonsumsinya.

>>> Sharp Rilis AQUOS R11 dengan Kamera Leica dan Fitur Relaksasi

Diproduksi oleh kelenjar pineal di otak, melatonin adalah hormon alami yang membantu mengatur ritme sirkadian—jam biologis internal tubuh.

Fungsinya bukan untuk 'menidurkan' secara paksa, melainkan memberi sinyal bahwa tubuh perlu bersiap tidur.

Produksi melatonin meningkat saat hari mulai gelap, mencapai puncak sekitar pukul 3 atau 4 pagi, lalu menurun hingga kita bangun.

Dengan kata lain, melatonin lebih berperan sebagai jarum jam internal daripada tombol tidur.

Apa Kata Penelitian Ilmiah?

Studi oleh A.

Herxheimer tentang jet lag menemukan bahwa melatonin mengurangi gejala jet lag, terutama pada orang yang melewati banyak zona waktu.

Efektivitasnya optimal jika dikonsumsi pada waktu tidur yang direncanakan di tujuan, idealnya antara pukul 22.00 hingga tengah malam.

Penelitian lain pada orang berusia 55 tahun ke atas dengan gangguan tidur menunjukkan bahwa melatonin lepas lambat umumnya meningkatkan kualitas tidur dan bangun pagi.

Uji coba oleh Remy Luthringer juga menemukan manfaat serupa tanpa efek 'rebound' saat penghentian.

Sebuah tinjauan oleh Eduardo Ferracioli-Oda terhadap gangguan tidur primer—termasuk teror malam, berjalan sambil tidur, dan sulit tidur—menunjukkan bahwa suplementasi melatonin memperpendek waktu jatuh tidur, meningkatkan kualitas tidur, dan menambah total waktu tidur.

>>> Timnas Irak Hadapi Norwegia di Laga Perdana Piala Dunia 2026

Namun, efektivitasnya tetap lebih rendah dibanding obat hipnotik.

Studi Belanda oleh Ingeborg M van Geijlswijk pada remaja dengan kualitas tidur buruk menyimpulkan bahwa suplementasi melatonin jangka panjang tidak berdampak negatif signifikan pada tidur, pubertas, atau kesehatan mental mereka.