Konsumsi daging merah dalam porsi berlebihan terbukti memiliki dampak kompleks terhadap pola istirahat malam.

Kebiasaan menyantap menu tinggi protein ini secara berlebihan dapat memicu gangguan susah tidur yang mengancam kualitas kesehatan tubuh.

>>> Pedro Acosta Tercepat di Practice MotoGP Hungaria 2026

Penelitian dalam Journal of Clinical Sleep Medicine menemukan bahwa kandungan lemak dan protein tinggi pada daging merah memerlukan energi besar untuk dicerna.

Kondisi tersebut memaksa sistem metabolisme bekerja ekstra keras dan memicu rasa kantuk palsu sesaat setelah makan.

"Waktu makan yang terlalu larut malam berkaitan erat dengan pola dan kualitas tidur yang buruk," seperti dikutip dari Beautynesia, Sabtu (6/6/2026).

Lonjakan Aktivitas Pencernaan Malam Hari

Sistem pencernaan yang terlalu aktif di malam hari akibat mengolah daging terbukti merusak ritme jam biologis tubuh.

Gejala ini berisiko memburuk apabila konsumsi dilakukan terlalu dekat dengan jadwal tidur.

Dampak buruk lainnya adalah peningkatan keparahan gangguan sleep apnea atau henti napas sejenak saat tidur.

Selain itu, kebiasaan ini juga memicu risiko naiknya asam lambung ke kerongkongan yang mengganggu kenyamanan istirahat.

>>> Saham Wall Street Anjlok, Aksi Jual Sektor Teknologi Jadi Biang Kerok

"Konsumsi daging yang tinggi berkaitan dengan durasi dan kualitas tidur yang buruk," jelas laporan itu mengutip studi dalam jurnal Aging and Disease.

Kompetisi Zat Kimia Otak

Daging merah mengandung asam amino triptofan dan tirosin yang berfungsi sebagai bahan baku hormon pengatur kantuk.

Namun, bahan pangan ini juga membawa asam amino jenis lain yang saling berkompetisi ketat untuk diserap oleh otak.

Akibat persaingan tersebut, ketersediaan triptofan yang berhasil menembus otak justru berkurang drastis. Penurunan pasokan ini secara otomatis memangkas efek pemicu kantuk alami yang dibutuhkan tubuh untuk terlelap.

"Diketahui bahwa setiap peningkatan konsumsi daging sebesar 100 gram/hari, risiko seseorang untuk mengalami gangguan tidur juga akan meningkat hingga 60 persen," papar laporan tersebut.

Pasokan protein yang terlampau pekat dari daging merah juga diduga kuat memicu penurunan sensitivitas insulin.

>>> Pertamina Terapkan Dual Growth Strategy untuk Ketahanan Energi Nasional

Kondisi ini menstimulasi peningkatan penanda inflamasi di dalam tubuh yang pada akhirnya merusak siklus istirahat harian.