Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz mulai mengubah peta geopolitik Asia Tenggara.

Para analis keamanan di kawasan menilai krisis ini justru menguntungkan Rusia dan China, baik secara ekonomi maupun diplomatik.

>>> Milania Giudice Tari Bareng Adik yang Laporkan ke Polisi

Selat Hormuz merupakan jalur transit sekitar seperlima minyak dunia. Gangguan di sana berdampak langsung pada negara-negara Asia Tenggara yang sangat bergantung pada energi Timur Tengah.

Filipina, misalnya, mengimpor lebih dari 90 persen minyaknya dari Timur Tengah. Gangguan pasokan menjadi masalah ekonomi dan politik yang mendesak.

Dampak pada Aliansi Regional

Meskipun Filipina adalah sekutu dekat AS, pemerintahan Marcos justru meningkatkan akses minyak mentah Rusia dan memperluas diskusi kerja sama energi jangka panjang.

Menurut analis intelijen ancaman Lester Joseph Buitizon, jika sekutu terdekat AS pun terpaksa mendekati Moskow, negara-negara netral seperti Indonesia dan Malaysia akan lebih mudah melakukannya.

>>> Kuda Pacu Adan Banuelos Kaget Tahu Bella Hadid Single

Buitizon menambahkan, "Jika Rusia berhasil mengorientasikan ekonominya ke timur, sanksi Barat menjadi kurang efektif secara struktural."

Keuntungan bagi China

Sementara Rusia diuntungkan secara ekonomi, China berpotensi meraih keuntungan diplomatik.

Analis pertahanan Angkatan Laut Filipina Vincent Kyle Parada menilai krisis Iran menunjukkan bahwa keamanan ekonomi dan keamanan nasional kini tidak terpisahkan.

Menurut Parada, kebijakan AS seperti pengurangan bantuan pembangunan, ketegangan dagang, dan intervensi di Iran telah melemahkan posisi Washington di Asia Tenggara.

>>> Dustin Poirier: Bud Langsung Putus Kontrak Usai Penangkapan

"China tidak perlu melakukan apa pun selain menunggu," ujarnya.