"Langkah tersebut dapat menekan rupiah dan obligasi, serta membuat sebagian investor asing menunda atau mengurangi eksposurnya ke Indonesia," kata Budi.

Nico juga mengingatkan posisi Indonesia semakin menantang karena Vietnam akan resmi masuk kelompok emerging market pada September mendatang.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan persaingan memperebutkan aliran dana global.

"Apabila Indonesia tidak segera melakukan perbaikan, investor asing bisa saja lebih memilih Vietnam yang dinilai menawarkan stabilitas dan prospek pertumbuhan yang lebih menarik," ujarnya.

Sementara itu, Hans memproyeksikan kemungkinan besar S&P mempertahankan rating maupun outlook Indonesia. Pasalnya, pemerintah sudah mulai melakukan efisiensi anggaran terhadap program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih.

"Namun jika itu terjadi dan pemerintah konsisten menjaga disiplin fiskal, dana asing berpeluang kembali masuk ke pasar domestik," kata Hans.

Menurutnya, saham perbankan berpotensi menjadi tujuan utama apabila aliran dana asing kembali masuk ke Indonesia. Selain itu, saham-saham emas juga menarik dicermati di tengah masih tingginya ketidakpastian global.

Untuk jangka pendek, Hans memperkirakan IHSG bergerak dalam fase konsolidasi di kisaran 6.500 hingga 6.800.

>>> Gempa M 6,7 di Palu Rusak Sejumlah Bangunan Kampus Untad

Jika inflow kembali dan perang mereda, Hans menyebut perbankan dan emas layak diperhatikan.