"Meski IHSG menguat, asing masih net sell karena mereka belum melihat alasan yang cukup kuat untuk kembali mencatatkan inflow ke Indonesia," ujar Nico.

Pada akhir perdagangan Senin (15/6), IHSG ditutup menguat 4,12% ke level 6.254,96. Dalam lima hari terakhir, IHSG berhasil melonjak 17,08%.

Namun sepanjang tahun berjalan ini, IHSG masih anjlok 27,66%.

Meski mengalami penguatan dalam jangka pendek, investor asing masih terus mencatatkan net sell. Pada perdagangan 15 Juni 2026 saja, net sell asing mencapai Rp 105,86 miliar.

Secara akumulasi sepanjang tahun berjalan net sell asing menembus Rp 67,34 triliun.

>>> Tahun Baru Islam: Momentum Ubah Kebiasaan Jadi Lebih Produktif

Menurut Nico, investor asing masih menunggu perbaikan dari sisi kebijakan domestik, khususnya terkait disiplin fiskal dan keberlanjutan berbagai program pemerintah yang selama ini menjadi perhatian lembaga internasional.

Fokus pada Keputusan S&P

Di tengah mulai membaiknya sentimen global, perhatian pasar kini tertuju pada keputusan lembaga pemeringkat S&P Global Ratings yang dijadwalkan diumumkan pada 18 Juni mendatang.

Beredar spekulasi Indonesia berpotensi menghadapi penurunan outlook ataupun rating kredit.

Pengamat Pasar Modal Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan keputusan S&P akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah pasar keuangan Indonesia dalam jangka pendek.

"Jika S&P hanya mempertahankan rating dan outlook Indonesia, pasar berpotensi melihatnya sebagai kabar baik karena menghilangkan sebagian ketidakpastian," ujar Budi.

Menurutnya, skenario tersebut dapat membuka ruang bagi IHSG untuk melanjutkan pemulihan seiring membaiknya sentimen terhadap emerging market secara global.

Namun sebaliknya, jika S&P memberikan outlook negatif atau bahkan menurunkan rating Indonesia, dampaknya berpotensi cukup besar terhadap pasar keuangan domestik.