Kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz mulai memicu reli aset-aset negara berkembang.

Meredanya ketegangan geopolitik mendorong investor global berburu aset berisiko.

>>> Empat Peringatan Penting pada 12 April, dari Hari Pramuka hingga Bawa Bekal

Berdasarkan data Bloomberg, indeks saham negara berkembang MSCI Emerging Markets melonjak 2,8 persen mendekati rekor tertinggi awal Mei 2026.

Aliran dana asing ke sejumlah pasar berkembang mulai menunjukkan peningkatan signifikan.

Vietnam membukukan pembelian bersih saham senilai US$ 160,4 juta pada 15 Juni 2026.

Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 4,12 persen ke level 6.254,96 pada perdagangan Senin (15/6).

Meskipun demikian, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp 105,86 miliar pada hari tersebut.

Sentimen Positif Jangka Pendek

Co-Founder Pasardana & Pengamat Pasar Modal Hans Kwee menilai meredanya konflik menjadi katalis positif bagi aset pasar berkembang.

Berkurangnya tekanan harga minyak dan penguatan dolar AS turut mendukung sentimen.

"Ketika perang mereda, sentimen pasar menjadi lebih positif terhadap negara berkembang termasuk Indonesia," kata Hans Kwee.

Hans menambahkan bahwa Indonesia menghadapi tekanan fiskal dan nilai tukar rupiah akibat statusnya sebagai negara pengimpor minyak selama perang berlangsung.

Pengurangan ketegangan ini memberikan sentimen positif jangka pendek, walau proses normalisasi pasokan minyak diperkirakan memerlukan waktu lama.

"Minyak tidak akan langsung kembali ke level US$ 60 per barel–US$ 70 per barel.

Kemungkinan masih bertahan di kisaran US$ 80 per barel–US$ 90 per barel sehingga dampak positifnya terhadap pasar tidak akan sepenuhnya instan," ujar Hans.

Pemerintah Indonesia dilaporkan sudah mulai melakukan efisiensi anggaran terhadap program MBG dan Koperasi Desa Merah Putih.