Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet menilai kekhawatiran mahasiswa dan indikator fiskal berada pada titik temu yang sama.

Kemampuan APBN menanggung kewajiban di tengah ruang gerak terbatas menjadi isu utama.

Ketua Umum Apindo Shinta Widjaja Kamdani menekankan pentingnya transparansi dan efektivitas kebijakan fiskal. Dunia usaha berharap belanja APBN diarahkan untuk produktivitas dan multiplier effect yang jelas.

Ekonom LPEM UI Teuku Riefky menilai anggaran besar untuk program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) mempersempit ruang fiskal tanpa memberikan tambahan penerimaan signifikan.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengingatkan bahwa surplus keseimbangan primer Rp58,6 triliun belum menjamin perbaikan tata kelola fiskal.

Tekanan belanja diperkirakan meningkat pada semester II/2026.

>>> Kenaikan BI Rate Dinilai Tingkatkan Daya Tarik Surat Utang Negara

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi rencana penurunan pagu anggaran MBG secara signifikan. Keputusan final akan mengikuti arahan Presiden Prabowo.