Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diproyeksikan bergerak fluktuatif dan berisiko melemah pada perdagangan Senin (15/6/2026).

Mata uang garuda diperkirakan berada dalam kisaran Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS.

>>> Jepang dan Qatar Imbangi Raksasa Eropa di Piala Dunia 2026

Pada penutupan akhir pekan lalu, Jumat (12/6), rupiah ditutup menguat 0,62% ke level Rp17.865 per dolar AS.

Penguatan ini didorong oleh perbaikan sentimen pasar global dan domestik.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menyebutkan bahwa optimisme tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran menjadi pendorong utama.

Meredanya risiko geopolitik di Timur Tengah menekan volatilitas pasar dan menarik aliran modal ke aset berisiko.

Faktor domestik juga turut mendukung rupiah, dengan situasi sosial dan politik yang kondusif. Aksi demonstrasi yang terjadi berlangsung tertib sehingga tidak memicu kekhawatiran investor.

>>> Harga Emas Antam Turun Rp 2.000 per Gram pada 1 September 2025

Lukman menambahkan bahwa rupiah masih berpeluang melanjutkan penguatan jika sentimen positif terkait perdamaian AS-Iran tetap terjaga.

Namun, pasar mewaspadai perubahan sikap atau perkembangan geopolitik yang dapat mengubah ekspektasi secara cepat.

Fokus pelaku pasar selanjutnya tertuju pada rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) pekan depan.

BI diprediksi akan menaikkan suku bunga acuan untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan meredam tekanan ketidakpastian global.

Kenaikan suku bunga berpotensi meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik.

>>> Emiten Ritel Diprediksi Moncer Pasca Lebaran 2026 Berkat Diskon dan MBG

Kombinasi sentimen global dan dukungan BI diharapkan menjaga pergerakan rupiah pada kisaran Rp17.800-Rp17.950 per dolar AS pada Senin (15/6), dengan peluang penguatan lanjutan jika optimisme di Timur Tengah bertahan.