Malam 1 Suro dalam kalender Jawa hingga kini masih terus dijaga oleh masyarakat Jawa sebagai tradisi tahunan.

Momen pergantian tahun ini tidak sekadar menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga membawa esensi spiritual yang mendalam.

>>> Pemprov DKI Buka Gerai Samsat di Jakarta Fair Kemayoran 2026

Setiap tahunnya, masyarakat mengisi malam Satu Suro dengan beragam ritual serta laku batin. Aktivitas tersebut dilaksanakan dengan tujuan mengintrospeksi diri sekaligus mendekatkan jiwa kepada Tuhan YME.

Perayaan tradisi ini menjadi wujud nyata dari perpaduan ajaran Islam dengan kebudayaan Jawa. Proses akulturasi tersebut diketahui telah berjalan selama berabad-abad di tanah Jawa.

Istilah "Suro" sebenarnya berakar dari kata Asyura yang berasal dari bahasa Arab dan memiliki arti "sepuluh".

Kata ini merujuk langsung pada hari ke-10 di bulan Muharram yang dikenal memiliki keutamaan dalam Islam.

Dalam perjalanan waktu, masyarakat Jawa menyerap dan mengubah pelafalan kata Asyura menjadi "Suro". Nama tersebut akhirnya melekat dan digunakan untuk menamai bulan pertama dalam sistem penanggalan Jawa.

Sejarah Penanggalan Jawa-Islam

Munculnya tradisi malam Satu Suro berkaitan erat dengan sejarah masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram Islam.

Peresmian kalender Jawa-Islam dilakukan oleh Sultan Agung pada hari Jumat Legi bulan Jumadil Akhir tahun 1555 Saka, atau bertepatan dengan 8 Juli 1633 Masehi.

Sistem penanggalan baru ini mengombinasikan unsur kalender Saka yang berbasis Hindu dengan kalender Hijriah yang berbasis Islam.

Langkah tersebut diambil bukan hanya demi merapikan sistem waktu, melainkan juga sebagai strategi kebudayaan.

Sultan Agung memanfaatkan momen ini untuk menyatukan kelompok masyarakat Jawa yang saat itu terbagi antara kaum santri dan abangan.