Peringatan Tahun Baru Islam yang jatuh setiap 1 Muharram menjadi momen penting bagi umat Muslim di seluruh dunia untuk meningkatkan ibadah dan mawas diri.

Momentum pergantian kalender Hijriah ini juga dimanfaatkan untuk memanjatkan doa demi masa depan yang lebih baik.

>>> 10 Pemain Afrika Termahal di Piala Dunia 2026, Didominasi Pantai Gading

Meski esensi peringatannya sama, ekspresi perayaan bervariasi di tiap negara dan wilayah. Ragam budaya lokal berpadu dengan aspek keagamaan, mulai dari hidangan khusus hingga ritual tertentu.

Sebagian umat Muslim memilih melewati pergantian tahun dalam nuansa spiritual yang tenang dengan mendatangi masjid dan berkumpul bersama keluarga.

Di Indonesia, masyarakat terbiasa saling berkirim pesan ucapan selamat dan doa kebaikan melalui gawai.

Sementara itu, umat Islam di Jeddah, Arab Saudi, memiliki kebiasaan unik saat fajar 1 Muharram dengan menyuguhkan segelas susu sebagai perlambang doa agar tahun baru tetap bersih dan suci.

Pada siang hari, mereka menghidangkan mulukhia, makanan bernuansa hijau yang melambangkan harapan akan berkah melimpah.

Nuansa perayaan di Indonesia tidak lepas dari kuliner tradisional yang diwariskan turun-temurun. Masyarakat Semarang, Jawa Tengah, misalnya, membuat tumpeng lengkap dengan lauk pendamping untuk memperingati awal Muharram.

Hidangan ini dinikmati bersama dalam tradisi Kembul Bujana sebagai bentuk syukur dan perekat kebersamaan.

>>> Satpol PP Bandung Bongkar Paksa Garasi Ilegal di Trotoar Jalan Ambon

Perhatian khusus juga diarahkan pada tanggal 10 Muharram yang dikenal sebagai hari Asyura. Hari tersebut berkaitan dengan memori historis Pertempuran Karbala pada tahun 61 Hijriah.

Perang itu melibatkan pasukan Khalifah Umayyah kedua, Yazid I, melawan kelompok kecil pimpinan cucu Nabi Muhammad SAW, Hussein ibn Ali, yang akhirnya gugur.