Nilai tukar rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif dalam perdagangan sepekan ke depan. Proyeksi ini muncul setelah rupiah sempat menguat tajam pada akhir pekan lalu.

Pada Jumat (12/6/2026), rupiah menguat signifikan sebesar 128 poin ke level Rp 17.860 per dolar AS.

>>> Zion Suzuki Siap Mengawal Gawang Timnas Jepang di Piala Dunia 2026

Posisi tersebut lebih baik dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 17.988 per dolar AS.

Proyeksi Pergerakan Rupiah

Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah berpotensi kembali melemah pada kisaran Rp 17.780 hingga Rp 18.040 per dolar AS dalam sepekan ini.

"Untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.860 - Rp 17.910," ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (14/6/2026).

Sementara itu, Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menilai penguatan rupiah hingga pekan depan bergantung pada tiga faktor utama.

>>> Dani Olmo Incar Rekor Xabi Alonso di Piala Dunia 2026

Pertama, pergerakan aliran dana asing yang tidak hanya terfokus pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"Kedua, apakah dolar AS dan imbal hasil surat utang Amerika Serikat tidak kembali menguat. Kemudian apakah harga minyak dan ketegangan Timur Tengah tidak memburuk lagi," ujar Josua.

Jika ketiga faktor tersebut relatif stabil, rupiah berpeluang bertahan di bawah Rp 18.000 per dolar AS hingga awal pekan depan.

Penurunan harga minyak, derasnya arus masuk modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN), serta komunikasi yang meyakinkan dari Bank Indonesia dan pemerintah dapat mendorong rupiah menguat ke level Rp 17.700 sampai Rp 17.850 per dolar AS.

>>> Malaga CF Hadapi UD Almeria di Final Playoff Promosi

Sebaliknya, rupiah bisa kembali melemah ke atas Rp 18.100 apabila dolar AS menguat, harga minyak naik, atau investor kembali khawatir terhadap arah fiskal dan kebijakan domestik.