Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencatat penguatan signifikan sepanjang pekan kedua Juni 2026.

Mata uang Garuda menguat 327 poin atau 1,79% dalam periode 8–12 Juni 2026.

>>> KCIC Terapkan Tarif Dinamis Tiket Whoosh Mulai Rp250 Ribu Sambut Libur Panjang

Posisi rupiah bergerak dari Rp 18.187 ke Rp 17.860 per dolar AS. Penguatan ini didorong oleh kebijakan moneter domestik dan sentimen global.

Pergerakan Harian Rupiah

Pada Senin (8/6/2026), rupiah dibuka melemah 79,5 poin ke Rp 18.115 dan ditutup melemah 151 poin di Rp 18.187.

Keesokan harinya, Selasa (9/6/2026), rupiah berbalik menguat 43 poin saat pembukaan ke Rp 18.144 dan ditutup menguat 129 poin di Rp 18.058.

Rabu (10/6/2026) menjadi titik balik ketika rupiah kembali ke bawah Rp 18.000.

Dibuka menguat 149,50 poin ke Rp 17.908 dan ditutup menguat 114 poin di Rp 17.944.

Kamis (11/6/2026) rupiah melemah tipis 3 poin saat pembukaan ke Rp 17.947 dan ditutup melemah 44 poin di Rp 17.988.

Namun, Jumat (12/6/2026) rupiah melakukan rebound kuat dengan dibuka menguat 59 poin ke Rp 17.939 dan ditutup menguat 128 poin di Rp 17.860.

>>> Produsen Kurma Ajwa Madinah Ekspor 500 Ton ke 25 Negara, Indonesia Pasar Utama

Faktor Pendorong Penguatan

Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan BI-Rate menjadi 5,5%. Langkah ini menjadi katalis utama penguatan rupiah di tengah tekanan global.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memproyeksikan indeks dolar AS akan bergerak pada support 99,100 dengan resisten 100,700.

Menurutnya, masih ada indikasi dolar AS akan kembali menguat.

Untuk perdagangan Senin depan, Ibrahim memperkirakan rupiah akan fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah di rentang Rp 17.860–Rp 17.910.

Dalam sepekan, rupiah diprediksi bergerak di Rp 17.780–Rp 18.040.

Dari eksternal, data ekonomi AS yang memicu kekhawatiran inflasi tinggi membuat pasar berspekulasi Federal Reserve akan mengetatkan kebijakan.

>>> Emiten Rumah Sakit Catat Kinerja Positif di Awal 2026

Peluang kenaikan suku bunga Fed pada Desember diperkirakan 60%.