Nilai tukar rupiah berpotensi menguat tajam menuju level Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pekan depan.

Penguatan ini melanjutkan tren positif setelah rupiah ditutup melonjak 128 poin ke posisi Rp 17.860 per dolar AS pada perdagangan Jumat (12/6/2026).

>>> Journaling Jadi Tren Efektif Jaga Kesehatan Mental di Tengah Tekanan Hidup Modern

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan bahwa penguatan rupiah saat ini ditopang oleh kombinasi faktor moneter dan fiskal yang lebih solid dibandingkan beberapa bulan lalu.

"Rupiah masih berpotensi menguat pada pekan depan dengan kecenderungan bergerak menuju kisaran Rp 17.500 per dolar AS," ujar Fakhrul.

Sebelumnya, tekanan eksternal dan kekhawatiran pasar sempat memicu pelemahan rupiah.

>>> 6 Rahasia Menabung Orang Jepang yang Bikin Cepat Kaya

Namun, situasi berbalik setelah langkah stabilisasi terkoordinasi melalui kenaikan suku bunga acuan BI sebesar 75 basis poin dan penyesuaian harga BBM Pertamax.

Fakhrul memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.450 - 17.650 per dolar AS pada pekan depan dengan kecenderungan menguat.

Kepercayaan pasar juga diperkuat oleh langkah efisiensi anggaran belanja negara pada sejumlah program pemerintah yang menegaskan prioritas disiplin fiskal demi menjaga keberlanjutan APBN di tengah volatilitas ekonomi global.

>>> Korlantas Polri Terbitkan Aturan Golongan SIM Kendaraan Listrik

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati faktor eksternal seperti arah kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan imbal hasil obligasi AS, serta perkembangan geopolitik global yang dapat memengaruhi arus modal dan sentimen pasar.