General Motors (GM) melihat peluang besar dari mobil listrik yang terparkir di malam hari. Alih-alih hanya diam, kendaraan itu bisa membantu menstabilkan jaringan listrik nasional.

Dalam surat terbuka kepada perusahaan utilitas dan pembuat kebijakan energi, Wakil Presiden GM Energy Wade Sheffer memaparkan visi perusahaan untuk teknologi vehicle-to-grid (V2G).

>>> Review Chevrolet Suburban 2026: SUV Raksasa dengan Harga Rp1,6 Miliar, Tapi Kursi Terbaik Bukan di Depan

Mobil listrik yang kompatibel tidak hanya mengambil listrik dari jaringan, tetapi juga bisa mengirimkan energi kembali saat permintaan melonjak atau pasokan mengetat.

GM mengklaim sudah memiliki lebih dari 250.000 kendaraan listrik bidirectional di jalan-jalan Amerika.

Menurut perusahaan, kendaraan itu secara kolektif menyimpan energi yang cukup untuk membantu memberi daya sekitar 120.000 rumah hingga seminggu.

Sheffer mengatakan, "Teknologinya sudah terparkir di luar. Mari kita aktifkan bersama."

Konsep ini bukan hal baru. Sistem pengisian bidirectional telah dipromosikan sebagai cara menjaga rumah tetap menyala saat pemadaman.

GM kini ingin memperluas kemampuan itu agar EV bisa mendukung jaringan lokal, sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru bagi pemilik.

Biaya Peralatan Capai Rp 300 Juta

Namun, ada kendala besar. Untuk berpartisipasi, pemilik tidak cukup hanya memiliki EV yang kompatibel.

Mereka memerlukan peralatan pengisian bidirectional khusus yang harganya tidak murah.

Wired melaporkan bahwa paket perangkat keras yang dibutuhkan bisa mencapai sekitar $20.000 (sekitar Rp 300 juta) sebelum biaya pemasangan.

>>> Ford Mustang Jadi Mobil Paling Jarang Dikendarai di AS, Tapi Hanya Jika Hitung Pemilik yang Menjual

Dengan biaya setinggi itu, pemilik mungkin perlu lima tahun hanya untuk mencapai titik impas.