Kebijakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate dinilai berpotensi meningkatkan daya tarik Surat Utang Negara (SUN) bagi investor global.

Langkah moneter ini diproyeksikan menjadi penahan tekanan pasar jangka pendek untuk menstabilkan pasar obligasi domestik.

>>> Jerman Gilas Curacao 7-1 dan Pecahkan Rekor Gol Terbanyak Piala Dunia

Penyesuaian instrumen moneter tersebut dipandang sebagai respons tepat dalam menghadapi tingginya tekanan terhadap nilai tukar rupiah saat ini.

Peningkatan daya tarik aset keuangan berdenominasi rupiah menjadi dampak positif lain dari keputusan tersebut.

"Kenaikan BI-Rate tetap merupakan langkah yang tepat untuk mendorong kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik, terutama dalam kondisi tekanan terhadap rupiah yang cukup kuat," ujar Yusuf Rendi Manilet, Ekonom CORE Indonesia.

Keseimbangan antara risiko dan imbal hasil bagi investor global berpeluang membaik seiring kenaikan suku bunga acuan tersebut.

Namun, Yusuf mengingatkan bahwa aliran modal asing tidak hanya dipengaruhi oleh selisih imbal hasil atau yield.

"Bagi investor asing, imbal hasil yang diterima dihitung dalam dolar AS.

Karena itu ketika volatilitas rupiah meningkat, kenaikan suku bunga perlu disertai keyakinan bahwa nilai tukar dapat lebih stabil," kata Yusuf.

Instrumen SUN saat ini masih menawarkan imbal hasil yang kompetitif dibandingkan dengan obligasi dari negara lain.

Peluang masuknya dana asing akan semakin terbuka lebar apabila stabilitas mata uang rupiah dapat terus dipertahankan dengan baik.

>>> Goldman Sachs Pangkas Proyeksi Harga Minyak Brent 2027 Jadi US$ 80

"Dengan stabilitas rupiah yang lebih terjaga, investor memiliki ruang untuk kembali mempertimbangkan SUN sebagai instrumen yang menawarkan yield relatif menarik dibandingkan banyak negara lain," ujarnya.